Suatu waktu, saat masih aktif sebagai jurnalis saya mendapat tugas liputan. Saya meliput panti jompo yang menempati sebuah rumah kecil berlantai dua di Jalan Kramat V, No. 1C, Salemba, Jakarta. Di sana saya bertemu Mbah Lestari. Di Panti inilah 15 orang korban peristiwa 65 menikmati masa-masa senjanya.
Dengan pandangan menerawang masa lalu dan ekspresi pilu Lestari bercerita kisah masa lalunya.” Ceritanya awal saya ditangkap ngeri,” katanya. Lestari muda seorang aktivis Gerwani. Ia berasal dari Bojonegoro Jawa Timur. Sejak muda ia sudah senang berorganisasi. Waktu usianya menginjak 20 tahun, ia sudah ikut konggres Gerwani di Surabaya.
Setelah peristiwa 30 September 1965 meletus, nasib Lestari sekeluarga berubah. Mereka, dimasukkan dalam kategori yang harus ditangkap. Ia melarikan diri bersama anaknya yang baru berumur dua tahun. Tahun 1967, Lestari tertangkap oleh tentara di pantai Blitar Selatan. Dalam peristiwa itu Lestari kehilangan anaknya yang baru berumur dua tahun untuk selama-lamanya. Ia kemudian ditahan selama 11 tahun di Malang. ” Saya ditahan di LP khusus perempuan, jalan Merdeka Timur,Malang. Sekarang sudah berubah menjadi Ramayana. Itu dulu simbah ditahan di situ mulai tahun 1968 hingga tahun 1979,” kata Lestari.
Ia dibebaskan tahun 1979, namun sang suami divonis mati dan mendekam di penjara Surabaya hingga meninggal pada 1984 karena sakit. Perkenalan Lestari dengan tokoh Gerwani Sulami, mengantarkannya ke Jakarta pada awal 2000. Di Jalan Kramat Raya V mereka mendapatkan sebuah rumah dari keluarga Manado. ”Tahun 2003 pindah rumah sini, tapi rumahnya tak sebagus ini. Sudah reot, semua bocor. kalau hujan ya sudah, ngeri ,” katanya.
Berkat bantuan berbagai pihak akhirnya rumah reot itupun dibangun lagi. Setelah memakan waktu beberapa bulan rumah itupun selesai dibangun. Prosesi peresmian waktu itu oleh Abdurrahman Wahid. ” Memang menjadi suatu berkah dari Tuhan yang maha agung telah memberi pengayoman kepada para korban 65,” kata Lestari.
Di Panti Jompo Waluya Sejati Abadi ada 15 orang korban peristiwa 65. Mereka rata-rata berusia mendekati 80 tahun. Mereka masih aktif dengan berbagai kegiatan seperti menyempatkan membaca koran tiap pagi, mengikuti berbagai program televisi dan berita sebagai acara favorit.
Selain harus hidup bertahun-tahun di bui, menanggung stigma negatif dan dikucilkan dari masyarakat banyak diantara para korban yang terpaksa harus berpisah bahkan kehilangan orang-orang yang dicintainya. Lestari termasuk yang harus kehilangan dua orang anaknya. Waktu di Blitar selatan ada operasi yang gencar oleh militer yaitu operasi Trisula. Anak Lestari yang paling besar namanya Genduk. Waktu ditinggal, dia berumur 4 tahun, hingga saat saya bertemu Mbah Lestari ia belum bertemu Genduk.
Jakarta, 2008