Ada satu daerah di Banten yang erat dengan sosok Tan Malaka. Daerah tersebut adalah Bayah. Saya punya kenangan berkesan dengan Bayah. Siang itu Saya dan rekan Sholat Jumat di sebuah Masjid di daerah Bayah. Masjid itu tepatnya di depan pom bensin, pinggir jalan raya arah Rangkasbitung.
Selepas Sholat, karena kelelahan kami beristirahat sejenak di teras Masjid. Siang itu angin bertiup sepoi-sepoi sampai membuat kami terkantuk-kantuk dan terlelap. “Maaf, handphonenya diamankan dulu. Setelah itu silahkan istirahat lagi!” kami kaget dan langsung terjaga. Seorang lelaki memakai sarung berbaju gamis dengan kopiah sambil membawa sapu menunjuk sebelah saya. Di sana 2 buah handphone tergeletak begitu saja.
“Maaf kami numpang istirahat di Masjid!” kata saya.
“Silahkan. Tapi barang berharganya diamankan dulu. Nanti silahkan dilanjut,” kata si bapak.
Setelah selesai menyapu. lelaki itu bergabung dengan kami. Saya perkirakan usianya jelang enampuluh tahun. Ia memiliki intonasi suara tegas dan paham tentang batu-bara dari A hingga Z. Pembicaraan tentang batu bara ini dipicu dari banyaknya tumpukan batubara yang kami lihat di sepanjang jalan menuju Bayah.
Karena penasaran, saya bertanya tentang keluarganya. Lelaki itu sempat terdiam. Ia Lalu bercerita awal mula kisah kelamnya.
“Saya hancur karena perempuan. Maka kalian yang masih muda ini jangan pernah main perempuan,” katanya.
Ia berkisah tentang masa lalunya sebagai orang yang berkecukupan. Ia pernah punya beberapa rumah dan mobil. Ia sempat tinggal di Jakarta bekerja di sebuah instansi. Karena tabiat buruknya semuanya hancur, termasuk keluarganya. Puncaknya ia memutuskan keluar dari kerjanya dan pergi ke Kalimantan mencoba bisnis batu-bara. Namun, Ia gagal lalu memutuskan hidup dari masjid ke masjid. Sejak saat itu juga ia lepas kontak dari keluarganya.
“Rencananya kalian nanti menginap dimana?”
“Kami mau cari penginapan” ,“Nanti menginap disini saja. Kalian bisa istirahat santai,bersih-bersih dan beribadah!”Kamipun menerima tawaran bapak tersebut. Menginap di sana sambil menanti kisah-kisah menarik lain dari lelaki itu.
Fathoni Arief