Skip to content
Blog Fathoniarief
Blog Fathoniarief
  • Home
  • Salam Pembuka
  • Tentang Fathoni Arief
  • Indeks Daftar Artikel
Blog Fathoniarief
Di dalam Kereta

Naik Pesawat Kapan Malamnya?

admin, Juli 25, 2024Agustus 1, 2024

Hari sudah mulai gelap, meskipun waktu jelang Maghrib masih sejam lagi. Memang hari ini, cuaca tengah kurang bersahabat bagi orang yang sering bepergian dari satu tempat ke tempat lain seperti saya. Di langit, terlihat awan menggumpal-gumpal dan semakin tebal dan titik-titik hujan mulai berjatuhan ketika kereta api kelas Ekonomi Kahuripan melaju menuju stasiun Kertosono.

Kereta Api kelas Ekonomi, sarana transportasi yang dulu sering menemani perjalanan saya menuju kampung halaman, Tulungagung, dan balik ke kota tempat mengasah daya nalar saya sebagai orang lebih mengerti, Yogyakarta. Kereta api kelas ekonomi menjadi pilihan utama saat itu bukan hanya tiadanya kelas bisnis yang melewati tempat saya tinggal namun sarana inilah yang paling ramah bagi kantong saya. Seorang mahasiswa dengan uang saku yang bisa dibilang pas-pasan. Pas buat hidup sehari-hari dan kebutuhan yang penting saja.

Kini bertahun-tahun setelah tak lagi tinggal di Yogyakarta kesempatan seperti ini menjadi momen untuk mengenang kembali masa silam. Hingga saat ini saya sudah pernah naik berbagai macam kereta api dari satu kota ke kota lain. Jika dulu hanya kelas ekonomi dan nyaris selama kuliah tak pernah tahu bagaimana rasanya kereta kelas eksekutif. Sekarang saya sudah merasakan semua mulai dari kelas ekonomi, bisnis hingga Eksekutif. Namun meskipun demikian diantara kelas yang ada naik Ekonomi selalu meninggalkan kesan dan pengalaman yang berbeda.

Berbeda dengan kelas-kelas yang lainnya. Di kelas ekonomi bisa saya temukan beragam manusia dengan berbagai karakter, kisah, kelas yang tak saya temukan ketika naik kereta kelas eksekutif. Untuk Kelas bisnis? Sesekali saja bila beruntung saya mendapatkannya.

Seperti saat ini saya duduk di bangku paling ujung berdekatan dengan kamar kecil. Bahkan kursi yang kini saya duduki membelakangi kamar kecil yang seadanya itu. Nampak kaca yang retak. Menurut cerita penumpang yang duduk di depan saya ini sisa-sisa kejadian pelemparan suporter Bonek tatkala melawat ke Bandung.

Kereta yang saya naiki adalah Kahuripan. Kereta yang berangkat dari stasiun Kediri dan berakhir di Bandung. Beruntung bagi penumpang yang naik dari Kediri. Meskipun kereta ini kelas ekonomi tetap ada nomor kursi. Jadi kursi yang ditempati sesuai dengan tiket yang dibeli. Itupun juga bisa memilih. Dari Kediri menuju Yogyakarta jika membeli tiket berdiri harganya Rp. 19000 sedangkan untuk mendapatkan kursi harus menambah Rp. 2000 lagi. Jika dihitung-hitung dari tempat saya,Tulungagung, saya hanya mengeluarkan uang tiket tak lebih dari Rp. 26000.

Dari stasiun awal duduk di depan saya dua orang lelaki. Lelaki yang tepat di depan saya menuju kota Tasikmalaya sedangkan di sampingnya turun di Madiun. Di samping saya adalah seorang teman saya yang kebetulan sempat main ke kota saya.

Tahukah apa yang membuka cerita-cerita kami hingga berlanjut ke cerita lain yang nampak tak ada ujungnya? Semua berawal dari cerita tentang ikan Koi. Ikan hias berasal dari negeri Sakura yang digemari karena keunikan corak pada punggungnya.

Sebagai pembuka perbincangan adalah lelaki di depan saya. Lelaki yang berusia 35an ini adalah seorang pedagang ikan hias. Beberapa hari yang lalu ia sengaja datang jauh-jauh dari Tasikmalaya menuju Blitar dan Tulungagung. Tujuannya tak lain mencari bibit ikan koi. Ikan-ikan tersebut menurutnya terdiri dari berbagai ukuran. Nantinya ikan-ikan tersebut dijual kembali.

Ia berkeliling untuk mendapatkan bibit terbaik. Bibit-bibit ikan tersebut ia angkut menggunakan truk. Sengaja ia menyewa truk dari Tulungagung untuk mengirim ikan-ikan tersebut ke Tasikmalaya. Ia sendiri pulang terpisah dengan menggunakan kereta api. Baru pertama kali ini ia naik Kahuripan menuju Tasikmalaya.

Kuliah gratis tentang perikanan ini berakhir ketika lelaki di sampingnya berkisah tentang anak dan keluarganya. Saya dan rekan hanya manggut manggut menjadi pendengar setia. Bermula tentang kisah biaya untuk menyekolahkan anaknya cerita kembali bergeser ke kisah yang lebih menarik lagi. Ia mulai bercerita pengalaman menjadi TKI di Arab Saudi. Kali ini ia benar-benar sebagai pembicara utama alias key note speaker.

Kereta terus berjalan. Satu demi satu stasiun disinggahi. Penumpangpun mulai memenuhi seluruh rangkaian kereta Api Kahuripan ini. Pemandangan lain yang setiap saat nampak adalah pedagang asongan yang menawarkan barang dagangannya. Mereka berjualan mulai dari minuman, alat-alat sehari-hari, makanan dan masih banyak lagi. Selain mereka nampak awak kereta yang menawarkan minuman dan makanan. Profesi lain yang juga terlihat adalah tukang sapu. Mengenai tukang sapu ada sesuatu yang baru. Sekarang mereka mengenakan seragam. Nampaknya sudah dikoordinir dan resmi. Mereka tak lagi minta-minta uang receh pada penumpang.

Waktu terus saja berjalan. Seperti senter yang batterainya masih baru mampu menyala terang. Begitu juga dengan lelaki mantan TKI tersebut. Kisah demi kisah seakan tak ada habisnya. Selesai satu kisah ada lagi kisah lain. Nyaris kami bertiga hanya sebagai pendengar setia. Ia berkisah tentang majikannya, tentang ekseskusi mati Saddam Husein yang disiarkan langsung di sebuah stasiun televisi, tentang hukum potong tangan, tentang kaos dari Arab yang membuat ia terheran-heran karena tak ada jahitan di sisi samping. Satu lagi yang sempat membuat saya ingin tertawa dan menahannya adalah ketika ia bercerita pengalamannya naik pesawat.

“Saya herannya ketika berangkat dari Bandara Soekarno Hatta hari sudah gelap. Namun ketika pesawat sudah terbang menuju Arab kok terang lagi. Ini kapan malamnya?”

Ternyata bukan kami bertiga saja pendengar setianya. Penumpang di bangku seberang dan ibu-ibu di sisi pojok secara tak sadar juga mendengar semua kisah lelaki itu.

Benar, waktu berjam-jam menuju Jogja serasa cepat. 5 jam perjalanan dari Kediri menuju Yogyakarta serasa 2 jam saja. Keretapun berhenti di Stasiun Lempuyangan. Setelah hampir 3 tahun meninggalkan Jogja baru kali ini saya menjejakkan kaki di sini. Ada sesuatu yang baru. Stasiun ini telah direnovasi menjadi lebih bagus tampilannya dibanding sebelumnya.

Perjalanan dengan kereta api kelas ekonomi memang selalu meninggalkan kesan. Termasuk pengalaman saya hari ini.

Catatan Perjalanan 2008

 

Fathoni Arief

Kisah catatan perjalananKisahpesawat

Navigasi pos

Previous post
Next post

Related Posts

Kisah

Kenangan Dari Selembar Kliping Koran

Juli 29, 2024Mei 9, 2025

Saat sibuk mengurus persiapan wisuda S2, saya membongkar kontainer berisi berkas-berkas yang jarang saya sentuh. Saya mencari  foto copy ijazah S1 yang sudah dilegalisir. Waduh, dalam hati saya sempat kuatir kira-kira masih ada ga ya. Soalnya sudah lama sekali saya terakhir kali “legalisir” Ijazah Sarjana. Kalau sampai berkas ini tidak…

Read More
Kisah suasana jembatan penyeberangan

Cerita Dari Rawajati : Kisah tentang lika-liku Kehidupan

Agustus 2, 2024Juni 12, 2025

Malam Itu saya terpaksa harus pulang ke Rawajati naik kendaraan umum. Motor saya mogok dan harus saya tinggal di parkiran kantor sebuah media yang ada di Kebayoran lama. Setelah lebih dari setengah jam menanti di jalanan gelap Kebayoran lama, sebuah angkot berhenti. Angkot itu kosong, hanya saya saja satu-satunya penumpang….

Read More
Kisah

Susan Magdalane Boyle: Kisah Inspiratif dari Desa Kecil yang Menggemparkan Dunia

Mei 15, 2025Mei 15, 2025

Susan Magdalane Boyle adalah contoh nyata bagaimana mimpi besar bisa lahir dari tempat sederhana. Dari desa kecil di Skotlandia, wanita dengan suara emas ini mengubah persepsi dunia lewat audisi Britain’s Got Talent yang legendaris. Kisah hidup dan perjalanan karier Susan Boyle menjadi inspirasi luar biasa bagi siapa saja yang percaya…

Read More

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

  • Lagu Sendu Sang Daradasih
  • Bunga Terakhir dari Balik Jeruji: Tragedi, Penantian, dan Penebusan
  • Mengenang Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso
  • Catatan Akhir Pekan: Tentang Menulis dengan Hati
  • Mengenang Ayrton Senna, Sang Legenda yang Menginspirasi

Galeri

Rubrik

  • Esai & Gagasan
    • Aneka
    • Arsitektur Vernakular
    • Cagar Budaya
    • Ekologi Budaya
    • Kampung Kota
    • lansekap
    • Sapa
    • Transportasi
  • Karir & Produktivitas
    • Tips Menulis
  • Kehidupan & Refleksi
    • Kisah
  • Perjalanan
    • Cerita Dari Kota Tua
  • Sastra & Cerita Pendek
    • Cerpen
    • Film

Kata Kunci

Arsitektur Arsitektur Vernakular bantuan Naskah Belajar Menulis Brand Story Telling Cagar Budaya cerita dari bayah cerita pendek Cerpen Cerpen bintang Cerpen Fathoni Arief Cerpen Tentang Ayah dunia kepenulisan gerbong senja Guru Daerah Terpencil Guru Papua Inspirasi Jakarta jasa penulis Jasa Penulisan Kawah Ijen Kisah Kisah Ayrton Senna kisah dari bayah kisah ibu kota Kisah Perjalanan Kopi menulis menulis produktif merjan merjan air mata mudik Naftali naik pesawat pertama kali pengalaman naik pesawat penulis penulis profesional perjalanan perjalanan ke kawah ijen Prof Hardjoso Rawa Jati sayap yang hilang sejarah kopi sisi lain tentang ibu kota sosok sugeng

Pos-pos Terbaru

  • Lagu Sendu Sang Daradasih
  • Bunga Terakhir dari Balik Jeruji: Tragedi, Penantian, dan Penebusan
  • Mengenang Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso
  • Catatan Akhir Pekan: Tentang Menulis dengan Hati
  • Mengenang Ayrton Senna, Sang Legenda yang Menginspirasi

Arsip

  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025
  • Desember 2024
  • Oktober 2024
  • September 2024
  • Agustus 2024
  • Juli 2024
  • Mei 2024
  • Juni 2023
  • Mei 2023
  • Desember 2022
  • November 2022
  • November 2021
  • Januari 2021
  • Januari 2020
  • September 2019
  • Juni 2019

Home | Perjalanan | Refleksi | Cerita | Esai | Jasa | Tentang

©2026 Blog Fathoniarief | WordPress Theme by SuperbThemes