Malam Itu saya terpaksa harus pulang ke Rawajati naik kendaraan umum. Motor saya mogok dan harus saya tinggal di parkiran kantor sebuah media yang ada di Kebayoran lama.
Setelah lebih dari setengah jam menanti di jalanan gelap Kebayoran lama, sebuah angkot berhenti. Angkot itu kosong, hanya saya saja satu-satunya penumpang. Tak lama setelah saya naik angkot itu pun melesat.
Di sebuah tikungan ada seorang lagi penumpang. Nampaknya yang naik sesama sopir angkot.
Sepanjang perjalanan sambil melepas lelah kudengar keluh kesah mereka. Bagaimana susahnya mengejar setoran, bagaimana persaingan antar sopir angkot, dan mereka yang akhirnya pasrah dengan apa yang mereka jalani. ” Hingga jam segini baru 90 ribu. Tapi bagaimana lagi harus tetap menyetor,” kata si sopir.
Di sebuah pertigaan si penumpang tadi turun. Tanpa ditagih bayaran ia pun turun. Memecah kesunyian saya pun bertanya pada si sopir.
“Sampai jam berapa narik?”.
“Ini yang terakhir,” katanya.
Pertanyaan “formalitas” itupun akhirnya berkembang jadi cerita demi cerita. Si sopir bercerita bagaimana sikap solidaritas antar sopir, bagaimana dia menanggapai penumpang yang bayar kurang namun ga mau ngomong. “Ada yang duit seribu digulung-gulung trus kabur,” katanya.
“Kalau dia ngomong eh bang duit saya kurang cuma segini saya bisa nerima,” tambahnya.
Si supir pun terus bercerita. ” Hidup ini selalu berubah mas. Saat ini saya lagi punya duit kalau ada penumpang yang pas ga punya duit saya bisa terima. Siapa tahu suatu saat saya di jalan ga punya duit naik angkot,” Sayapun hanya manggut-manggut saja.
“Kaya kamu ini sekarang jadi penumpang siapa tahu suatu saat kamu yang jadi sopir,” langsung mengena kata-kata sopir tadi. Angkotpun terus saja berjalan, dan terus saja dia bercerita tentang kisah hidup, serba-serbi dunianya. Tak terasa angkot pun sampai di perempatan Slipi. Setelah mengeluarkan beberapa lembar ribuan dan membayar sayapun kembali melangkah…
Sebuah taksi yang kosong langsung saya tuju..dan saya pun melanjutkan perjalanan menuju Rawajati….
Tegalsari 19 Mei 2023
Fathoni Arief