Ada satu tempat di Jakarta yang meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Tempat itu adalah Rawajati. Tempat ini letaknya di belakang apartemen Kalibata dan tak jauh dari taman makam pahlawan Kalibata sekira sepuluh menit jalan kaki dengan kecepatan langkah biasa.
Alasan pertama tempat ini begitu berkesan adalah karena sosok Tan Malaka. Bapak bangsa yang terlupakan ini pernah tinggal di tempat ini. Dalam paragraf awal pembuka di buku Madilog Tan Menulis “ Ditulis di Rawajati dekat pabrik sepatu Kalibata Cililitan Jakarta. Disini saya berdiam dari 15 juli 1942 sampai dengan pertengahan tahun 1943, mempelajari keadaan kota dan kampung Indonesia yang lebih dari 20 tahun ditinggalkan. Waktu yang dipakai buat menulis Madilog, ialah lebih kurang 8 bulan dari 15 juli 1942 sampai dengan 30 maret 1943 (berhenti 15 hari), 720 jam, ialah kira-kira 3 jam sehari”. Pabrik sepatu yang dimaksud Tan Malaka adalah “Bata”.
Alasan kedua adalah karena saya pernah tinggal di sana. Saat saya tinggal di Rawajati pabrik ini sudah tidak beroperasi. Waktu itu saya tinggal di Rawajati hampir setahun. Saya tinggal di sebuah kos yang berlokasi tak jauh dari Tan Tinggal di sebuah kos yang sebenarnya cukup layak ditinggali namun beresiko terkena banjir. Pernah satu waktu di sore hari selepas hujan deras genangan air masuk kedalam rumah sekira sampai telapak mata kaki. Untung saja waktu itu tidak banyak barang yang berserakan di lantai.
Sebenarnya tempat saya tinggal itu lokasinya cukup strategis. Kos saya berdekatan dengan Mall Kalibata dan stasiun kereta Rawajati. Dari stasiun kalau pas lagi malas saya bisa sekali naik angkot atau jalan kaki. Ketika hari libur saya masih ingat terkadang saya jalan kaki ke stasiun naik KRL ke stasiun Jakarta kota. Dari Jakarta kota saya jalan kaki ke kawasan kota tua sekedar hunting foto.
Di Rawajati ini juga tempat saya merenung, meski tak bisa seperti Tan Malaka yang bisa menelurkan Madilog, setidaknya saya belajar tentang bagaimana para pendatang bertahan di tengah kerasnya kota.
Di Rawajati saya tinggal di pemukiman padat, dekat rel kereta. Menuju ke kos saya anda bisa menjumpai gang gang sempit yang hanya muat dilewati satu motor. Di sini tanah lapang menjadi sesuatu yang mewah bagi anak-anak untuk bermain bola. Sehingga ketika menemukan lahan kosong yang seukuran lapangan bulutangkis saja sudah menjadi kebahagiaan bagi mereka.
Seperti di samping kos saya. Ada sebuah lapangan bulutangkis milik warga. Lapangan yang sejak saya pertama kali datang jarang digunakan bermain bukutangkis. Lapangan yang justru setiap sabtu malam atau tiap libur digunakan anak-anak kampung bermain bola.
Mereka seperti orang kehausan yang diberi air. Mereka bermain bola dari sehabis Maghrib sampai jam 10 malam terkadang lebih. Awalnya saya jengkel melihat mereka bermain tak kenal waktu dan ternyata pemilik kos juga merasakan hal yang sama. Apalagi setiap mendengar suara bola yang ditendang membentur dinding atau mengenai asbes atap rumah cukup mengusik waktu istirahat. Bahkan saking jengkelnya pemilik kos, sudah jatuh korban beberapa bola yang masuk ke samping rumah melewati pagar. Bola plastik harus berakhir di dalam bak sampah di dapur dengan kondisi terbelah.
Seiring berjalannya waktu saya jadi berfikir. Ah sebenarnya bola-bola yang membentur atau mereka yang tak kenal waktu bukan semata-mata salah mereka. Untunglah dulu ketika masih kecil di kampung masih banyak lahan kosong tempat bermain bola. Lalu mereka? Anak-anak kecil itu jika harus dilarang bagaimana nantinya? Apakah bukanya lebih buruk jika mereka bermain di pinggir rel, tawuran, atau bertindak hal bodoh lain.
Sepak bola menjadi barang yang mahal
Milik mereka yang punya uang saja
Dan sementara kita disini
Di jalan ini
Bola kaki dari plastik
Ditendang mampir ke langit
Pecahlah sudah kaca jendela hati
Sebab terkena bola tentu bukan salah mereka. (mereka ada di jalan, Iwan Fals)
Tegalsari 15 Mei 2023
Fathoni Arief