Skip to content
Blog Fathoniarief
Blog Fathoniarief
  • Home
  • Salam Pembuka
  • Tentang Fathoni Arief
  • Indeks Daftar Artikel
Blog Fathoniarief

Sepotong Kisah Dari Kota Tua

admin, Juli 29, 2024Mei 15, 2025

Menunggu di Bawah Matahari Kota Tua Jakarta

Sebuah Kisah dari Museum Fatahillah

Matahari mulai condong ke barat, namun panasnya masih membakar pelataran Museum Fatahillah di jantung Kota Tua Jakarta. Di bawah rindang pohon besar, Sutar duduk menghela napas, melepas lelah dari rutinitasnya sebagai tukang ojek sepeda.

Baru beberapa saat kami berbincang, terdengar suara gemuruh dari langit. “Udah panas aja nggak apa-apa, tapi jangan hujan. Di selatan, Depok, katanya sudah hujan,” ujarnya sambil tersenyum kecil. Bagi Sutar, hujan adalah tantangan bagi pekerjaannya, menghambat harapan dan penghasilan hari itu.

Sutar, warga pendatang dari Jawa Tengah, sudah bertahun-tahun mengadu nasib di kota ini. Sepedanya bukan hanya alat transportasi, tapi saksi perjalanan hidup dan wajah Kota Tua yang penuh cerita. Beberapa kali ojeknya dipakai untuk keperluan syuting, wawancara, atau acara televisi—menjadi salah satu ikon hidup kawasan bersejarah ini, selain bangunan-bangunan megah peninggalan kolonial.

“Dulu di sini pusat pemerintah Batavia,” katanya pelan, mengisahkan sejarah gedung yang kini menjadi Museum Sejarah Jakarta. Peletakan batu pertamanya tanggal 30 Mei 1626, dan pada 30 Maret 1974 resmi diresmikan sebagai museum. Gedung ini menjadi saksi bisu kejayaan Hindia Belanda sekaligus kekejaman pemerintahan masa itu.

Di depan museum terbentang lapangan luas dengan sebuah bangunan kecil bersegi delapan di tengahnya, bekas air mancur yang dulu menjadi sumber air minum warga Batavia, dialirkan dari Glodok. “Dulu pernah ditemukan saluran air yang berasal dari sana,” ujar Sutar sambil menunjuk ke arah bangunan itu.

Namun lapangan itu juga menyimpan sisi kelam. “Di sini dulu tempat eksekusi hukuman pancung. Pedang yang dipakai masih disimpan di dalam museum,” katanya dengan nada berat.

Di antara bangunan tua dan cagar budaya yang terawat dengan apik, banyak yang berfungsi sebagai museum: Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Museum Seni Rupa, dan tentu saja Museum Fatahillah.

Satu jam berlalu, pengunjung mulai berkurang. Tapi Sutar masih sabar menunggu penumpang berikutnya. Meski hari ini sepi, semangatnya tak padam, sebuah cermin ketangguhan kota tua yang tak pernah benar-benar diam.

Museum dan bangunan-bangunan tua ini tidak hanya menyimpan artefak, tapi juga kehidupan manusia yang terus bergerak di sekelilingnya. Sutar dan sepedanya adalah bagian dari cerita yang membuat Kota Tua Jakarta tetap hidup, bercerita lewat langkah-langkah kecil dan harapan yang tak pernah surut.

Jakarta 3 Mei 2008

Fathoni Arief

Cerita Dari Kota Tua Jakartakota tua

Navigasi pos

Previous post
Next post

Related Posts

Cerita Dari Kota Tua Kota Lama Semarang

Menyambangi Kota Lama Semarang

Agustus 1, 2024Mei 15, 2025

Cerita dari Kota Lama Semarang: Antara Terik Matahari dan Aroma Waktu Siang itu, untuk kelima kalinya saya menyambangi kawasan Kota Lama Semarang. Terik matahari memang menggelora, tapi anehnya, di tempat ini saya selalu merasa nyaman. Meskipun sudah berulang kali datang, rasa bosan tak pernah menyapa. Dulu, saat tinggal di Jakarta,…

Read More

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

  • Lagu Sendu Sang Daradasih
  • Bunga Terakhir dari Balik Jeruji: Tragedi, Penantian, dan Penebusan
  • Mengenang Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso
  • Catatan Akhir Pekan: Tentang Menulis dengan Hati
  • Mengenang Ayrton Senna, Sang Legenda yang Menginspirasi

Galeri

Rubrik

  • Esai & Gagasan
    • Aneka
    • Arsitektur Vernakular
    • Cagar Budaya
    • Ekologi Budaya
    • Kampung Kota
    • lansekap
    • Sapa
    • Transportasi
  • Karir & Produktivitas
    • Tips Menulis
  • Kehidupan & Refleksi
    • Kisah
  • Perjalanan
    • Cerita Dari Kota Tua
  • Sastra & Cerita Pendek
    • Cerpen
    • Film

Kata Kunci

Arsitektur Arsitektur Vernakular bantuan Naskah Belajar Menulis Brand Story Telling Cagar Budaya cerita dari bayah cerita pendek Cerpen Cerpen bintang Cerpen Fathoni Arief Cerpen Tentang Ayah dunia kepenulisan gerbong senja Guru Daerah Terpencil Guru Papua Inspirasi Jakarta jasa penulis Jasa Penulisan Kawah Ijen Kisah Kisah Ayrton Senna kisah dari bayah kisah ibu kota Kisah Perjalanan Kopi menulis menulis produktif merjan merjan air mata mudik Naftali naik pesawat pertama kali pengalaman naik pesawat penulis penulis profesional perjalanan perjalanan ke kawah ijen Prof Hardjoso Rawa Jati sayap yang hilang sejarah kopi sisi lain tentang ibu kota sosok sugeng

Pos-pos Terbaru

  • Lagu Sendu Sang Daradasih
  • Bunga Terakhir dari Balik Jeruji: Tragedi, Penantian, dan Penebusan
  • Mengenang Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso
  • Catatan Akhir Pekan: Tentang Menulis dengan Hati
  • Mengenang Ayrton Senna, Sang Legenda yang Menginspirasi

Arsip

  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025
  • Desember 2024
  • Oktober 2024
  • September 2024
  • Agustus 2024
  • Juli 2024
  • Mei 2024
  • Juni 2023
  • Mei 2023
  • Desember 2022
  • November 2022
  • November 2021
  • Januari 2021
  • Januari 2020
  • September 2019
  • Juni 2019

Home | Perjalanan | Refleksi | Cerita | Esai | Jasa | Tentang

©2026 Blog Fathoniarief | WordPress Theme by SuperbThemes