Saat sibuk mengurus persiapan wisuda S2, saya membongkar kontainer berisi berkas-berkas yang jarang saya sentuh. Saya mencari foto copy ijazah S1 yang sudah dilegalisir. Waduh, dalam hati saya sempat kuatir kira-kira masih ada ga ya. Soalnya sudah lama sekali saya terakhir kali “legalisir” Ijazah Sarjana. Kalau sampai berkas ini tidak ada artinya saya harus ke Jogja dulu mengurus legalisir, sesuatu yang menurut saya akan ribet.
Tak mau terus kefikiran, saya langsung balik ke rumah Karanggede. Sampai rumah langsung saja saya bongkar-bongkar kotak penyimpanan dokumen. Ternyata saya masih punya banyak copyan ijazah yang sudah dilegalisir.
Ketika bongkar-bongkar berkas ada selembar kertas yang membuat saya tersenyum. Selembar kliping potongan koran media Indonesia. Kliping tersebut isinya info tentang sepuluh besar peserta yang terpilih mengikuti seleksi Eagle Award. Oiya, bagi sekedar informasi saja, Eagle Award ini adalah kompetisi pembuatan film dokumenter yang diselenggarakan oleh Metro TV.
Wah, mungkin ada yang bilang ah biasa saja tak ada yang spesial. Tapi bagi saya dulu melihat selembar kertas ini jauh lebih bangga dari membaca deretan nama lolos SPMB di koran pagi. Meskipun dalam perjalanan kami tidak bisa melaju sampai babak berikut, tapi tetap saja saya bangga dan bersyukur.
Waktu itu kami mengusung sebuah judul proposal “Impian di atas awan”. Kira-kira kisahnya tentang perjuangan sekelompok masyarakat dalam menggapai mimpinya. Idenya sebenarnya idenya bermula dari saat saya hadir dalam sebuah pertemuan tentang pendidikan di Apartemen Magister Manajemen UGM. Lewat acara itulah saya kenal Menoreh. Menoreh memang bukanlah kata asing. Setiap kali tempat itu disebut yang terbayang adalah para pendekar dalam cerita SH Mintarja ( baca: Api Di Bukit Menoreh).
Waktu itu benar-benar saya mendapatkan pengalaman luar biasa mulai dari pertama kali naik pesawat, pertama kali nongol di TV nasional, pertama kali tidur di hotel. Tak hanya itu saja tapi juga kesempatan berkenalan dengan rekan-rekan baru yang luar biasa.
Kini bertahun-tahun kemudian nama-nama yang tertera di selembar kertas ini sudah menjalani kehidupannya masing-masing. Diantara mereka ada yang tetap di jalur film ada juga yang tetap menjadi orang biasa saja seperti saya.
Tegalsari 2023
Fathoni Arief