Ada banyak alasan seseorang mengikuti “travelling” mulai dari mencari spot foto yang menarik hingga kuliner khas. Namun saya memiliki alasan yang mungkin “beda”, yaitu untukmenikmati perjalanan itu sendiri. Saya suka berkunjung ke suatu tempat, menjumpai hal baru, berjumpa orang baru.
Menurut saya percuma mengunjungi suatu tempat mendapatkan foto menarik namun tak ada sesuatu yang didapat ya sudah paling-paling foto itu tak lama akan terlupakan. Namun jika saya mendapatkan cerita, kenangan, maka selamanya saya akan mengingatnya apalagijika saya bisa mendapatkan foto yang menarik juga.
Saya masih ingat meskipun sudah bertahun-tahun kesan saya ketika naik ke kawah putih Ciwidey dan bermalam di bawah meja warung. Saya juga masih mengingat dengan jelas kecerobohan saya dan rekan yang seenaknya masuk komplek candi penampihan dansempat kena marah juru kunci. Semua itu ibarat rekaman video masih bisa diputar denganjelas.
Untuk mendapatkan cerita-cerita di perjalanan tentu saja kita harus berinteraksi. Kita bisangobrol dengan warga setempat, penjaga tiket, tukang parker, sesama peserta dan masihbanyak lagi. Karena saya pernah jadi jurnalis ya kalau mendengar sesuatu yang menarikseringkali mendapatkan sinyal kuat untuk merekam dalam memori ataupun bertanya.
Begitu juga dalam perjalanan wisata ke Kawah Ijen ini saya juga merekam hal-hal menarik. Saya masih ingat ketika saya tertatih tatih turun kembali ke area parker mendengar cerita seorang tour guide. Ia bercerita tentang kisah bapaknya yang “terpaksa” harus pensiun sebagai penambang karena mengalami cedera. Tour guide ini juga bercerita awal mula ia bisa berbicara bahasa Inggris.
Hal menarik lain adalah dalam rombongan saya ada beberapa oma-oma usianya sudah di atas 60 tahun bahkan ada yang berusia 79 tahun. Mereka masih begitu fit dan mampu berjalan hingga puncak padahal saya saja yang setengah muda sudah ngos-ngosan dan perlu perjuangan dan semangat lebih untuk bisa kepuncak.
Itulah sebagian kecil kisah-kisah perjalanan yang saya dapatkan. Kisah-kisah yang selalumembuat saya kembali belajar. Melalui kisah-kisah dan berbagai hal saya bisa mengikuti perintah “Iqra” untuk jadi lebih baik.
Catatan Oktober 2023
Fathoni Arief



