Skip to content
Blog Fathoniarief
Blog Fathoniarief
  • Home
  • Salam Pembuka
  • Tentang Fathoni Arief
  • Indeks Daftar Artikel
Blog Fathoniarief

Seroja, Laskar Pelangi dan Verys Yamarno

admin, Juli 25, 2024Juli 26, 2024

Bunga Seroja, tanaman bernama latin Nelumbo nucifera. Tanaman yang hidup di air ini diperkirakan berasal dari India. Bunga ini memiliki banyak manfaat, bunga, biji, daun hingga akar bisa dimakan. Konon, sejak jaman mesir kuno bunga ini sudah diistemewakan.


Tahun 50an, Seroja diangkat menjadi satu judul lagu, dinyanyikan Said Effendi, maestro musik melayu yang tersohor sampai negeri Jiran.

Seroja kembali muncul sebagai salah satu soundntrack film laskar Pelangi jelang akhir tahun 2008. Film yang diangkat dari novel Andrea Hirata ini mendapat sambutan luar biasa dari penikmat film. Fakta tersebut membuat saya sangat penasaran, sebenarnya apa yang menarik dari film ini. Saya masih ingat, waktu itu di banyak bioskop di Jakarta selalu dipenuhi mereka yang antre tiket film garapan Sutradara Mira Lesmana ini. Fenomena seperti ini berlangsung hingga beberapa pekan.

Saya termasuk orang yang malas berjam-jam demi selembar tiket, jadi sayapun mencari bioskop yang tak harus antri. Setelah survey kecil-kecilan saya coba datang ke Plaza Senayan. Benar saja, tanpa harus antri berjam-jam saya bersama dua orang rekan bisa mendapatkan tiket, meski harganya memang lebih mahal dikit jika dibanding bioskop dekat kos saya, Kalibata Mall.

Rupanya memang tak salah jika banyak orang penasaran dengan Laskar Pelangi. Sebagai orang awam saya sangat terkesan dengan jalan cerita dan akting para pemeran di film ini. Ada satu tokoh yang menurut saya unik dan kreatif, Mahar.

Hingga film selesai diputar saya masih terngiang soal radio transistor, menjemur batterai, dan saat tokoh yang diperankan Verys Yamarno ini menyanyikan lagu bunga seroja. Kalau saja waktu itu umur saya masih bisa dihitung dengan jari, mungkin sosok ini bakal menginspirasi saya. Ada adegan saat Mahar bermain rebana sambil bersenandung Seroja, menghibur Ikal yang tengah gundah gulana. Mahar dengan suara melengking menyanyikan lagu Melayu yang pernah sangat populer tersebut.

Melihat keunikan dan keanehan tokoh ini rasanya seperti melihat cermin saja. Keanehan-kenehan yang dulu begitu melekat dengan masa kecil saya. Saking terkesannya dengan film laskar pelangi pagi hari saya langsung menulis review saya dan memposting di blog.

Enam tahun, posting saya di blog pribadi, itupun terkubur dengan artikel lain hingga saya tergerak membacanya lagi, setelah melihat berita mengejutkan di media online, sang pemeran tokoh nyentrik itu ditemukan meninggal di kamar kos. Verys Yamarno, pemeran bocah nyentrik, tak lagi bisa menyenandungkan “Seroja”.

Sang pemeran Mahar kini hanya bisa terdiam, tapi bukan karena termenung. Verys kembali menghadap sang Khaliq, dalam sunyi, jauh dari keluarga dan orang terdekat, kepergian yang mendadak.Verys telah berada di peristirahatan terakhir di tanah kelahiran, Belitung, tanpa lantunan lagu seroja atau musik melayu, namun beriring panjatan doa dari semua yang berduka.

Verys mungkin telah meninggalkan kita, namun tak demikian dengan Mahar. Tokoh nyentrik ini akan selalu hidup dan dikenang sebagai sosok istimewa seperti Bunga Seroja.


Mari menyusun seroja bunga seroja

Hiasan sanggul remaja putri remaja

Rupa yang elok dimanja jangan dimanja

Pujalah ia oh saja sekedar saja

Mengapa kau bermenung oh adik berhati bingung

Mengapa kau bermenung oh adik berhati bingung
Janganlah engkau percaya dengan asmara

Janganlah engkau percaya dengan asmara

Sekarang bukan bermenung dalam termenung

Sekarang bukan bermenung dalam termenung

Mari bersama oh sayang memetik bulan

Mari bersama oh sayang memetik bulan

Mari menyusun seroja bunga seroja
Hiasan sanggul remaja putri remaja

Rupa yang elok dimanja jangan dimanja

Pujalah ia oh saja sekedar saja



(Lirik Lagu Seroja)
Film Kisah Bunga Serojalaskar pelangiserojaVerys Yamarno

Navigasi pos

Previous post
Next post

Related Posts

Cerpen

Melodi Sunyi Di Jalan Pulang

Oktober 21, 2024Mei 30, 2025

Suara Ayah, “Ayah ingin pulang,” masih terngiang di telingaku, setiap kata mengiris hati. Jemariku memutih di atas setir yang kupegang erat, berusaha meredam gejolak dalam dada. Deru mesin mobil yang biasanya menenangkan, kini hanya menambah kesunyian yang menyesakkan. Kami sudah melaju cukup jauh, melewati jalanan kabupaten yang lengang. Pepohonan tinggi…

Read More
Kisah suasana jembatan penyeberangan

Cerita Dari Rawajati : Kisah tentang lika-liku Kehidupan

Agustus 2, 2024Juni 12, 2025

Malam Itu saya terpaksa harus pulang ke Rawajati naik kendaraan umum. Motor saya mogok dan harus saya tinggal di parkiran kantor sebuah media yang ada di Kebayoran lama. Setelah lebih dari setengah jam menanti di jalanan gelap Kebayoran lama, sebuah angkot berhenti. Angkot itu kosong, hanya saya saja satu-satunya penumpang….

Read More
Kisah Di dalam Kereta

Naik Pesawat Kapan Malamnya?

Juli 25, 2024Agustus 1, 2024

“Saya herannya ketika berangkat dari Bandara Soekarno Hatta hari sudah gelap. Namun ketika pesawat sudah terbang menuju Arab kok terang lagi. Ini kapan malamnya?” Cerita seorang bapak berusia 40 tahunan memulai perjalanan saya menuju Yogyakarta. Perlahan kereta meninggalkan stasiun Kediri menuju kota pelajar.

Read More

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

  • Lagu Sendu Sang Daradasih
  • Bunga Terakhir dari Balik Jeruji: Tragedi, Penantian, dan Penebusan
  • Mengenang Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso
  • Catatan Akhir Pekan: Tentang Menulis dengan Hati
  • Mengenang Ayrton Senna, Sang Legenda yang Menginspirasi

Galeri

Rubrik

  • Esai & Gagasan
    • Aneka
    • Arsitektur Vernakular
    • Cagar Budaya
    • Ekologi Budaya
    • Kampung Kota
    • lansekap
    • Sapa
    • Transportasi
  • Karir & Produktivitas
    • Tips Menulis
  • Kehidupan & Refleksi
    • Kisah
  • Perjalanan
    • Cerita Dari Kota Tua
  • Sastra & Cerita Pendek
    • Cerpen
    • Film

Kata Kunci

Arsitektur Arsitektur Vernakular bantuan Naskah Belajar Menulis Brand Story Telling Cagar Budaya cerita dari bayah cerita pendek Cerpen Cerpen bintang Cerpen Fathoni Arief Cerpen Tentang Ayah dunia kepenulisan gerbong senja Guru Daerah Terpencil Guru Papua Inspirasi Jakarta jasa penulis Jasa Penulisan Kawah Ijen Kisah Kisah Ayrton Senna kisah dari bayah kisah ibu kota Kisah Perjalanan Kopi menulis menulis produktif merjan merjan air mata mudik Naftali naik pesawat pertama kali pengalaman naik pesawat penulis penulis profesional perjalanan perjalanan ke kawah ijen Prof Hardjoso Rawa Jati sayap yang hilang sejarah kopi sisi lain tentang ibu kota sosok sugeng

Pos-pos Terbaru

  • Lagu Sendu Sang Daradasih
  • Bunga Terakhir dari Balik Jeruji: Tragedi, Penantian, dan Penebusan
  • Mengenang Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso
  • Catatan Akhir Pekan: Tentang Menulis dengan Hati
  • Mengenang Ayrton Senna, Sang Legenda yang Menginspirasi

Arsip

  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025
  • Desember 2024
  • Oktober 2024
  • September 2024
  • Agustus 2024
  • Juli 2024
  • Mei 2024
  • Juni 2023
  • Mei 2023
  • Desember 2022
  • November 2022
  • November 2021
  • Januari 2021
  • Januari 2020
  • September 2019
  • Juni 2019

Home | Perjalanan | Refleksi | Cerita | Esai | Jasa | Tentang

©2026 Blog Fathoniarief | WordPress Theme by SuperbThemes