Suara Ayah, “Ayah ingin pulang,” masih terngiang di telingaku, setiap kata mengiris hati. Jemariku memutih di atas setir yang kupegang erat, berusaha meredam gejolak dalam dada. Deru mesin mobil yang biasanya menenangkan, kini hanya menambah kesunyian yang menyesakkan. Kami sudah melaju cukup jauh, melewati jalanan kabupaten yang lengang. Pepohonan tinggi berdiri tegak di sepanjang jalan, seolah menjadi saksi bisu atas perjalanan terakhir kami bersama. Ayah duduk di belakang, diam dalam ketenangan yang memilukan. Sejak Ibu tiada, ia sering meminta hal yang sama. “Suatu hari, antarkan Ayah pulang. Ke rumah kita,” katanya. Dan kini, aku benar-benar menepati janji itu, meski hatiku hancur berkeping-keping. Kami sedang dalam perjalanan pulang, perjalanan yang terasa lebih sunyi dari biasanya, perjalanan yang tak akan pernah bisa kami ulangi lagi.Di depan, jalan membentang lurus dan panjang, tapi setiap meter yang kulewati terasa seolah membawa aku menjauh dari kenyataan.
“Jalan ini belum banyak berubah ya, Yah? Masih seperti dulu,” kataku pelan, suaraku tenggelam dalam dengung lembut mesin. Dulu, Ayah selalu memberikan komentar tentang apa saja yang kami lihat di sepanjang perjalanan, mulai dari pepohonan hingga sawah yang menghampar. Setiap kali, selalu ada kata-kata dari mulutnya, mengisi setiap jeda dengan cerita atau tawa. Tapi kali ini, hanya aku yang berbicara, sementara keheningan menggantung di udara.
Sesekali aku melirik kaca spion, berharap mendapati senyum Ayah, atau sekadar melihat gerakan kecil yang menunjukkan ia mendengarku. Namun, yang kutemui hanyalah bayanganku sendiri, terpaut di antara kilasan kenangan.
Kami melintasi jalan provinsi, di mana pepohonan di sisi kanan dan kiri seolah memberi salam lewat hembusan angin yang lembut. Rasanya seperti mereka mengerti, bahwa perjalanan ini adalah perjalanan yang berat.
“Ayah, kau tahu? Rumah itu masih seperti dulu. Tempat aku lahir, tempat Ibu dan Ayah membesarkanku,” aku berkata lagi, lebih kepada diriku sendiri. Mobil terus melaju, namun bayangan masa lalu terasa lebih kuat dibandingkan kenyataan yang kutinggalkan di belakang. Semakin jauh kami melaju, semakin kuat dorongan kenangan itu menyeretku kembali.
Aku teringat bagaimana ponselku bergetar di meja, menampilkan nama yang selalu membuatku tersenyum. “Mengko sore Ayah dolan menyang omah, ya,” suaranya selalu terdengar riang, meskipun aku tahu tubuhnya sudah lelah oleh usia. Setiap kali Ayah menelepon, ada rasa hangat yang segera memenuhi hatiku. Aku akan segera bersiap, membersihkan rumah, menyiapkan teh manis kesukaannya. “Siapkan juga krupuk rambak saka kutha kelairanmu, Yah,” candaku waktu itu, seperti selalu.
Dan Ayah, dengan tawa kecilnya, menjawab, “Wis ana ning bagasi.”
Aku masih bisa membayangkan wajahnya saat turun dari mobil, senyum lembut yang seakan menenangkan semua kekhawatiran yang kubawa. Kami duduk di kursi kayu di ruang tamu yang sepi—kursi yang Ayah dan Ibu belikan untukku dan istriku. Aku ingat malam itu. Mereka datang, melihat ruang tamu yang kosong, hanya ada meja kecil dan lantai yang dingin.
Aku masih bisa membayangkan wajahnya saat turun dari mobil, senyum lembut yang seakan menenangkan semua kekhawatiran yang kubawa. Kami duduk di kursi kayu di ruang tamu yang sepi—kursi yang Ayah dan Ibu belikan untukku dan istriku. Aku ingat malam itu. Mereka datang, melihat ruang tamu yang kosong, hanya ada meja kecil dan lantai yang dingin.
“Kowe ora isa ngene terus,” keluh Ibu sambil melirik Ayah. Keesokan harinya, aku dikejutkan oleh suara klakson di depan rumah. Ketika aku membuka pintu, tampak seorang pria berseragam mengantarkan seperangkat meja kursi yang masih terbungkus rapi. Rupanya, Ayah diam-diam telah memesannya. Kini, duduk di kursi itu, aku merasakan kehangatan kasih sayang Ayah dan Ibu yang selalu berusaha membuat rumahku terasa lengkap, bahkan tanpa perlu banyak kata.
Sore itu, hanya kami berdua, menghabiskan malam dengan teh hangat dan percakapan panjang yang tak pernah terasa cukup. “Bagaimana kabar pekerjaanmu? Sudah mulai betah di rumah baru?” tanyanya dengan suara lembut yang selalu menenangkanku. Aku bercerita tentang segala hal—renovasi yang belum selesai, pekerjaan yang makin hari makin berat. Dan Ayah hanya mendengarkan, sesekali memberikan nasihat dengan cara yang sederhana, tapi selalu penuh makna.
Malam itu, meski rumah belum selesai sepenuhnya, rasanya begitu lengkap. Ayah duduk di kursi kayu yang kubeli dari pasar, memandang langit malam yang cerah.
“Rumah ini akan jadi tempat yang nyaman. Kau akan merasa di rumah di sini, seperti dulu kita merasa di rumah bersama Ibu.” Suara Ayah malam itu masih terpatri jelas di ingatanku. Kata-katanya tak pernah hilang, seolah waktu itu tak pernah berlalu. Tetapi senyumku pudar ketika aku tersadar, rumah itu memang sudah jadi, tapi kini hanya aku dan istriku yang tinggal di dalamnya.
Mobil perlahan memasuki jalan tol. Suara ban yang berdesir di atas aspal terdengar lebih nyaring saat kecepatan bertambah. Aku mempercepat laju mobil, tapi di dalam diriku, waktu terasa berjalan semakin lambat. Setiap kilometer yang kulewati seperti membawa aku lebih dekat pada sebuah akhir yang tak bisa kuhindari. Sejak Ibu pergi, seakan ada kekosongan yang tak pernah benar-benar terisi, dan kini, dengan Ayah di belakangku, kekosongan itu terasa lebih nyata.
“Antarkan Ayah pulang.” Kata-kata itu terngiang-ngiang dalam pikiranku, berputar tanpa henti. Apakah aku telah melakukan yang terbaik untuk Ayah selama ini? Apakah aku sudah cukup membuatnya bahagia? Mungkin ada hal-hal yang tak sempat kukatakan. Ada percakapan yang terlewat, waktu yang terbuang, dan penyesalan yang mulai merayap, semakin kuat seiring laju mobil. Setiap kilometer yang kulewati menjadi pengingat bahwa waktu kami semakin singkat, dan ketika mobil ini berhenti, aku tahu semuanya akan berubah.
Perjalanan ini terasa seperti takdir yang tak bisa ditolak. Seperti jalan tol ini—lurus dan panjang, tanpa jalan kembali. Hidupku, hidup Ayah, semua berjalan di jalur yang tak bisa diputar ulang. Jalan ini hanya membawa kami ke satu tujuan: rumah. Rumah yang menjadi saksi dari segala suka duka kami. Tempat di mana aku tumbuh besar, tempat di mana Ayah dan Ibu merawatku dengan cinta. Tempat yang dulu penuh suara tawa, yang kini menunggu dalam sunyi.
Ketika mobil akhirnya berhenti di depan rumah, aku terdiam sejenak. Rumah itu berdiri kokoh, seperti menanti. Rumah yang menjadi saksi bisu dari kehidupan kami sekeluarga. Aku menarik napas panjang, membuka pintu mobil perlahan. Angin lembut menyapa, membawa serta ingatan-ingatan tentang masa lalu.
“Ayah, kita sudah sampai,” gumamku pelan, menoleh ke belakang. Tapi hanya ada keheningan yang menjawab.
Di halaman rumah, suasana berkabung sudah terasa. Deretan kursi-kursi telah disusun rapi, diapit rangkaian bunga yang berjejer di kanan dan kiri. Wangi bunga mawar dan melati yang segar bercampur dengan suasana duka. Beberapa orang berdiri dalam diam, mengenakan pakaian hitam, menunduk, seolah mengerti bahwa ini adalah akhir dari perjalanan seorang Ayah. Di ujung jalan, kereta jenazah menanti penumpang terakhirnya, siap membawa Ayah menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Aku berdiri di sana, memandangi semua persiapan ini, merasa aneh karena kenyataan begitu cepat menyusulku.
Air mata mengalir di pipiku saat aku menyadari kebenaran yang tak terelakkan. Ayah telah pergi. Bukan dalam pelukanku, bukan di rumah yang ia rindukan, tapi di rumah sakit, dikelilingi oleh orang asing. Penyesalan menusuk hatiku. Seharusnya aku lebih sering mengunjunginya, seharusnya aku lebih banyak mendengarkan ceritanya.
Aku menatap rumah itu untuk terakhir kalinya, ingatan-ingatan masa kecil berkelebat, memenuhi pikiranku. “Maafkan aku, Ayah,” bisikku lirih. “Seharusnya aku lebih baik.”
Kali ini, Ayah benar-benar pulang, untuk selamanya. Dan kini, pulang ke rumah sudah tidak lagi terasa seperti dulu. Segalanya telah berubah, rumah ini hanya menyimpan kenangan dari apa yang pernah ada. Namun, di tengah kesedihan yang mendalam, ada juga rasa syukur. Syukur karena pernah memiliki Ayah yang begitu mencintainya, syukur karena pernah memiliki rumah yang penuh dengan kehangatan.
Aku melangkah menuju rumah, siap menghadapi kenyataan yang baru. Hidup harus terus berjalan, meskipun tanpa Ayah. Dan aku akan membawa kenangan tentangnya, selamanya.