Skip to content
Blog Fathoniarief
Blog Fathoniarief
  • Home
  • Salam Pembuka
  • Tentang Fathoni Arief
  • Indeks Daftar Artikel
Blog Fathoniarief

Sepak Bola dan Kenangan Masa Kecil

admin, Mei 22, 2025Mei 22, 2025

Sepak bola, permainan yang pertama kali saya kenal saat berusia lima tahun. Tahun itu adalah 1986, dan dunia sedang terpesona oleh gegap gempita Piala Dunia di Meksiko. Saya masih belum benar-benar mengerti permainan ini, tapi saya ingat jelas poster-poster yang terpampang di toko kecil yang saya lewati setiap kali berjalan kaki menuju Masjid Agung untuk sholat Jumat. Salah satu poster itu menampilkan seorang pemain bertubuh mungil dengan rambut kriwil dan mata tajam penuh tekad. Namanya Maradona. Saya tidak tahu siapa dia saat itu, tapi entah kenapa, saya ikut-ikutan mengidolakan sosok itu.

Kegemaran saya pada Maradona bahkan membuat orang tua saya punya ide licik. Saya yang tidak suka makan bayam, dijanjikan bisa jadi sehebat Maradona jika rajin memakannya. “Biar kuat seperti Maradona!” katanya. Tapi ya saya tetaplah saya. Bayam tetap saya sisihkan. Mungkin karena itulah saya tak pernah jadi Maradona, karena saya menolak makan sayur sejak dini.

Di samping Maradona dan Argentina, saya mulai menyukai Persebaya, tim Bajul Ijo yang jadi kesayangan bapak saya. Radio transistor tua sering memutar siaran langsung pertandingan mereka, sementara koran-koran yang saya baca numpang di rumah tetangga dipenuhi berita seputar kompetisi perserikatan yang seru dan penuh gairah.

Entah kapan tepatnya, tapi sejak masa-masa itu, saya mulai benar-benar mencintai sepak bola. Di sekitar rumah masih banyak tanah kosong, tanah lapang kecil yang kami jadikan arena bermain bola plastik. Di sore hari, kami kerap bermain di alun-alun kota yang kini telah berubah jadi taman rapi nan steril. Dulu, rerumputannya jadi saksi tawa, jerit, dan teriakan kami mengejar bola sampai matahari tenggelam.

Kini, dua puluh empat tahun telah berlalu sejak saya pertama mengenal si kulit bundar. Saya tinggal di Kalibata, di sebuah pemukiman padat pinggir rel. Kanan-kiri hanyalah deretan rumah-rumah warga yang berdempetan, dan tanah lapang menjadi barang mewah yang hanya bisa dikenang. Jika ada sebidang tanah seukuran lapangan bulutangkis pun, anak-anak sudah bersorak bahagia.

Seperti di samping rumah kos saya, ada lapangan bulutangkis milik warga. Tapi tidak pernah saya lihat seorang pun bermain bulutangkis di sana. Setiap Sabtu malam atau hari libur, lapangan itu jadi arena bola. Anak-anak kampung bermain dari habis Maghrib sampai kadang jam sepuluh malam, atau lebih. Mereka bermain dengan gairah, dengan semangat yang nyaris putus asa, seperti orang kehausan yang baru diberi air.

Awalnya saya jengkel. Suara bola yang membentur dinding kos atau menghantam asbes atap cukup mengusik istirahat. Pemilik kos bahkan lebih kesal lagi. Bola-bola yang nyelonong ke halaman sering berakhir di tempat sampah, dipotong dan tak bisa dipakai lagi.

Tapi lama-kelamaan, saya mulai berpikir. Mereka itu hanya anak-anak yang ingin bermain. Mereka tak punya lapangan seperti kami dulu. Jika mereka dilarang bermain di lapangan kecil itu, di mana lagi mereka bisa bermain? Di pinggir rel? Di jalanan sempit? Atau lebih buruk lagi, terseret dalam tawuran dan hal-hal bodoh lainnya?

Kadang saya merasa bersalah setiap kali ikut mengeluh. Karena sesungguhnya, suara bola yang membentur dinding adalah suara masa kecil kita yang perlahan dilupakan. Mereka tidak salah. Yang salah adalah dunia yang tak lagi menyediakan ruang untuk bermain. Ruang untuk tumbuh.

Kalibata, 2008

Kisah kenangan masa kecilsepak bola

Navigasi pos

Previous post
Next post

Related Posts

Kisah

Uneg-uneg di Sore Hari

Mei 23, 2023Mei 23, 2023

Jam menunjukkan pukul 16.30 ketika mobil saya melewati “fly over” Purwosari Solo. Saat mobil berada di atas “eks” pabrik Sari Petojo pandangan saya tertuju pada seorang tukang becak tua yang mendorong becak di bahu jalan. Pembangunan jalan layang di satu sisi memang mengurangi “masalah” yang terjadi di perlintasan namun mungkin saja lupa kalau masih ada tukang becak yang untuk melewati jalan layang harus terengah engah atau harus jalan kaki sambil mendorong kendaraan mereka.

Read More
Kisah

Susan Magdalane Boyle: Kisah Inspiratif dari Desa Kecil yang Menggemparkan Dunia

Mei 15, 2025Mei 15, 2025

Susan Magdalane Boyle adalah contoh nyata bagaimana mimpi besar bisa lahir dari tempat sederhana. Dari desa kecil di Skotlandia, wanita dengan suara emas ini mengubah persepsi dunia lewat audisi Britain’s Got Talent yang legendaris. Kisah hidup dan perjalanan karier Susan Boyle menjadi inspirasi luar biasa bagi siapa saja yang percaya…

Read More
Kisah Gowes Pagi

Catatan Pagi ini..

Januari 25, 2020Januari 25, 2020

Ternyata menulis itu soal kebiasaan. Jika dilakukan berulang-ulang untuk menulis satu demi satu tulisan bukanlah hal yang susah, tapi sebaliknya hal ini juga bisa menjadi sesuatu yang rumit, susah sekali lagi karena ketidak biasaan itu. Persis, seperti yang saya alami sudah niat, semangat bikin blog baru dengan blog dan hosting…

Read More

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

  • Lagu Sendu Sang Daradasih
  • Bunga Terakhir dari Balik Jeruji: Tragedi, Penantian, dan Penebusan
  • Mengenang Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso
  • Catatan Akhir Pekan: Tentang Menulis dengan Hati
  • Mengenang Ayrton Senna, Sang Legenda yang Menginspirasi

Galeri

Rubrik

  • Esai & Gagasan
    • Aneka
    • Arsitektur Vernakular
    • Cagar Budaya
    • Ekologi Budaya
    • Kampung Kota
    • lansekap
    • Sapa
    • Transportasi
  • Karir & Produktivitas
    • Tips Menulis
  • Kehidupan & Refleksi
    • Kisah
  • Perjalanan
    • Cerita Dari Kota Tua
  • Sastra & Cerita Pendek
    • Cerpen
    • Film

Kata Kunci

Arsitektur Arsitektur Vernakular bantuan Naskah Belajar Menulis Brand Story Telling Cagar Budaya cerita dari bayah cerita pendek Cerpen Cerpen bintang Cerpen Fathoni Arief Cerpen Tentang Ayah dunia kepenulisan gerbong senja Guru Daerah Terpencil Guru Papua Inspirasi Jakarta jasa penulis Jasa Penulisan Kawah Ijen Kisah Kisah Ayrton Senna kisah dari bayah kisah ibu kota Kisah Perjalanan Kopi menulis menulis produktif merjan merjan air mata mudik Naftali naik pesawat pertama kali pengalaman naik pesawat penulis penulis profesional perjalanan perjalanan ke kawah ijen Prof Hardjoso Rawa Jati sayap yang hilang sejarah kopi sisi lain tentang ibu kota sosok sugeng

Pos-pos Terbaru

  • Lagu Sendu Sang Daradasih
  • Bunga Terakhir dari Balik Jeruji: Tragedi, Penantian, dan Penebusan
  • Mengenang Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso
  • Catatan Akhir Pekan: Tentang Menulis dengan Hati
  • Mengenang Ayrton Senna, Sang Legenda yang Menginspirasi

Arsip

  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025
  • Desember 2024
  • Oktober 2024
  • September 2024
  • Agustus 2024
  • Juli 2024
  • Mei 2024
  • Juni 2023
  • Mei 2023
  • Desember 2022
  • November 2022
  • November 2021
  • Januari 2021
  • Januari 2020
  • September 2019
  • Juni 2019

Home | Perjalanan | Refleksi | Cerita | Esai | Jasa | Tentang

©2026 Blog Fathoniarief | WordPress Theme by SuperbThemes