Jam menunjukkan pukul 16.30 ketika mobil saya melewati “fly over” Purwosari Solo. Saat mobil berada di atas “eks” pabrik Sari Petojo pandangan saya tertuju pada seorang tukang becak tua yang mendorong becak di bahu jalan. Pembangunan jalan layang di satu sisi memang mengurangi “masalah” yang terjadi di perlintasan namun mungkin saja lupa kalau masih ada tukang becak yang untuk melewati jalan layang harus terengah engah atau harus jalan kaki sambil mendorong kendaraan mereka.
………………
Tapi begitulah, orang seperti saya bisanya cuma “grundel” dan ga bisa apa-apa lha saya juga bukan siapa-siapa. Persis seperti kejadian siang tadi selepas menonton film Fast X, sequel dari film Fast n Furious. Orang awam ini bingung, ini si mister Louis Leterrier kok nggak bikin “ending” yang biasanya diharapkan pemirsa film Indonesia. Bagaimana bisa film ini diakhiri dengan cerita yang sangat menggantung. Bagaimana nasib Dom dengan anaknya? Lalu jelang akhir cerita si Shaw mau nyelamatin “ibuknya” bagaimana juga akhirnya? Lha trus bagaimana juga nasib Roman dan Tej yang tiba-tiba saja pesawatnya kena bazoka? Ah pusing saya.
Alah kok saya jadi ikut-ikutan mikir? Lha wong tinggal beli tiket dan nonton saja kok protes? Padahal ga ikut mikir bikin cerita, bikin film ah dasar saya harusnya ya sudah pasrah saja dan bersyukur masih bisa beli tiket dan nonton bareng istri lagi titik. Di luar sana banyak lo orang yang jangankan buat nonton konser “coldplay” nonton bioskop saja harus mikir ratusan atau bahkan ribuan kali.
Beberapa tahun lalu, pernah suatu ketika saya yang lagi “gabut” istilah orang sekarang nonton bioskop di Kalibata Mall. Waktu itu dibanding bioskop lain di Jakarta harga tiket di sini jelas-jelas paling murah.
Habis membeli tiket duduklah saya di kursi tunggu dan tiba-tiba datang sepasang muda-mudi kalau dilihat dari cara ngomong dan wajahnya satu suku dengan saya orang Jawa. Setelah berbisik-bisik si mas-mas bertanya. Saya kira ada apa ternyata dia cuma nanya harga tiket.
“Harga tiketnya berapa mas?”
“Sekian…..”, jawab saya
“busyet mahal amat”.
Mendengar komentar mas-mas tersebut saya dalam hati “mak deg”. Wah, ini tiket harganya sudah paling murah lo dan waktu itusekali nonton paling cukup buat makan sekali dengan menu “lumayan” bagi karyawan biasa. Dari situ saya jadi menyadari seringkali sesuatu yang bagi kita adalah hal biasa ternyata bagi orang lain di luar jangkauan mereka. Duit katakanlah Sepuluh ribu bagi yang berkecukupan mungkin dengan gampang keluar begitu saja tetapi bagi orang lain uang segitu adalah sesuatu yang ga boleh dikeluarkan tanpa perhitungan.
………..
Mobil sayapun terus melaju dan melewati jalan layang Purwosari. Oiya btw kira-kira bagaimana nasib bapak tukang becak tadi ya? Bayangan tukang becak tua itu masih belum sepenuhnya hilang. Bahkan sejenak menggeser tanda tanya di angan-angan saya seputar “ending” film Fast X. Jika sebelumnya yang mengisi fikiran saya adalah “dugaan” nasib dari pemeran utama film yang menggantung entah selamat atau tidak. Perlahan-lahan fikiran tentang film Fast X kembali tergeser dengan pertanyaan besar tentang pak tua penarik becak. Kira-kira bagaimana ya nasibnya? Sudah dapat penumpang atau belum? Sudah makan atau belum?
Ah.. Memang jika belum dapat penumpang saya mau kasih duit? Memang kalau ternyata belum makan saya mau belikan makanan? Walah-walah ya gapapalah Bisanya baru bisa bantu doa mirip-mirip anda anda yang baca postingan ini mungkin.
Tegalsari 22 Mei 2023