Skip to content
Blog Fathoniarief
Blog Fathoniarief
  • Home
  • Salam Pembuka
  • Tentang Fathoni Arief
  • Indeks Daftar Artikel
Blog Fathoniarief
3 doa cinta

Santri Juga Manusia, Punya Rasa dan Hati

admin, Mei 7, 2024Mei 7, 2024

Film 3 Doa 3 Cinta pertama kali tayang di layar bioskop limabelas tahun lalu. Tepatnya tahun 2008. Di masa itu masih jarang film yang mengangkat cerita kehidupan di pesantren. Apalagi mengangkat kisah berbagai hal yang sebelumnya tak “elok” terkait untuk diumbar ke ranah publik.

Saya pertama kali menonton film 3 Doa 3 Cinta, di sebuah mall daerah Jakarta Selatan. Awalnya karena penasaran dengan keberadaan Dian Sastro dan Nicolas Saputra di poster yang terpajang. Maklum, saya termasuk generasi yang merasakan rela antri demi nonton akting keduanya di Film Ada Apa dengan Cinta.

“Ya Nabi Salam Alaika. Ya Rasul Salam Alaika,” lantunan sholawat mengawali film mengiringi kemunculan berbagai wajah-wajah yang dalam bahasa kekinian sedang selfie di depan kamera video.  Pertama kali menonton film ini saya hanya bisa bertanya-tanya.

“Ini sebenarnya film tentang apa? Lagunya sholawat tapi yang ditampilkan kok beda dengan yang ada di fikiran saya,” Sebuah pertanyaan yang langsung terjawab setelah kemunculan papan nama pesantren dan sosok berbaju muslim bersila sambil membaca kitab kuning.

“Oh mungkin tentang pesantren.” kata saya dalam hati.

Kesan pertama bagi mereka yang pernah berada di lingkungan pesantren setelah menonton film ini pasti mengiyakan adegan-adegan yang ditampilkan.  Karena, ya memang seperti itu kondisinya. Jika ada hal yang masih mengganjal adalah apakah benar di pesantren bisa terjadi hal-hal yang tak wajar sebut saja pelecehan seksual oleh santri senior.

Ada adegan yang sempat membuat saya pernah bertanya-tanya apakah hal seperti ini bisa terjadi di pesantren? Pertanyaan seperti itu menurut saya wajar karena selama ini orang melihat pesantren dari sisi “putihnya” saja. Hal-hal seperti ini seringkali tidak terungkap dan coba ditutup rapat-rapat. Kekerasan antara santri senior dan yunior merupakan fenomena gunung es yang hanya bisa dilihat di permukaan saja. Insiden sering terjadi, namun seringkali ditutup-tutupi atau tidak diekspos oleh media.  

Belasan tahun setelah film tersebut kasus-kasus serupa akhirnya muncul di pemberitaan media. Salah satu yang menghebohkan pertengahan tahun lalu. Kota Jombang sempat geger setelah upaya pihak keamanan untuk menangkap salah seorang putra kiai mendapat perlawanan puluhan orang. Putra kiai ini adalah tersangka kasus pencabulan yang sudah lama menjadi buron.

Menonton Kembali Setelah Limabelas Tahun Berlalu

Setelah limabelas tahun berlalu, entah kenapa saya ingin bernostalgia menonton lagi film ini. Melalui layanan aplikasi berbayar saya menonton film ini untuk kedua kalinya. Ternyata kali ini saya mendapatkan kesan yang berbeda. Karena saat menonton yang kedua kali ini dalam rentang tahun tersebut sudah ada begitu banyak informasi tentang dunia “pesantren”.

Menurut saya, film ini cukup berani di masanya karena menampilkan hal-hal yang cukup sensitif. Film ini berusaha menampilkan kehidupan pesantren dari semua sisi dari sisi gelap, terang dan juga abu-abu. Jika salah sedikit saja bisa-bisa dianggap melecehkan pesantren.

Film yang disutradarai oleh Nurman Hakim ini mencoba menggambarkan kehidupan pesantren melalui pusaran konflik yang dialami oleh tiga tokoh utama dan orang disekitarnya. Mereka adalah Huda, Rian dan Syahid. Mereka adalah tiga remaja yang tinggal di pesantren di sebuah kota kecil yang terletak di daerah Bantul, Daerah Istimewa Yogjakarta. Kisah masing-masing dari ketiga sahabat itu adalah gambaran dari kata “cinta” yang menjadi judul film ini.

Film ini mengisahkan rencana ketiga santri dalam hidup mereka masing-masing setelah lulus dari pesantren dan SMA yang hanya tinggal sebulan lagi. Mereka memiliki sebuah lokasi rahasia, sebuah dinding tua di belakang pesantren, di sana mereka menulis harapan-harapan mereka di dinding.

Santri pertama adalah Huda. Tokoh ini diperankan oleh Nicholas Saputra. Huda digambarkan sebagai sosok santri yang relatif polos namun rajin dan patuh dengan sang kiai. Namanya juga manusia Huda secara tidak sengaja bertemu wanita cantik berbaju hitam, ketika melewati sebuah makam. Wanita itu adalah Dona Satelit yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo.

Karena penasaran di lain waktu Huda kembali lagi ke makam itu dan berkenalan dengan Dona. Dari sinilah terbuka jalan bagi Huda mencari keberadaan ibunya di Jakarta. Awalnya saya mengira hubungan Dona dan Huda bakal seromantis Rangga dan Cinta di film AADC. Ternyata ya sekedar suka saja namun di akhir cerita Huda dengan mantap menikahi putri Kiainya.

Tokoh kedua adalah Rian yang diperankan oleh Yoga Pratama. Rian dalam film ini digambarkan memiliki pengarai tengil. Ia berasal dari Surabaya. Suatu hari Rian mendapatkan sebuah kado handycam dari ibunya pada saat ulang tahunnya. Setelah menerima handycam ibunya menelfon dan berencana mengunjungi Rian sambil memberi sebuah kejutan. Ternyata yang dimaksud kejutan ini adalah suami baru ibunya. Karena kecewa Rian berencana ikut rombongan pasar malam terutama layar tancap yang kebetulan sedang singgah di desa itu.

Santri ketiga adalah adalah Syahid. Tokoh ini diperankan oleh Yoga Bagus. Diantara ketiganya Syahid digambarkan paling alim dan pendiam. Ia berasal dari keluarga miskin dan memiliki ayah yang sakit keras.

Suatu ketika Syahid berkumpul dengan Huda dan Rian. Masing-masing dari mereka mengungkapkan keinginan mereka selepas lulus. Berbeda dengan yang Huda memiliki rencana masa depan untuk menemukan ibunya dan Rian ingin meneruskan usaha keluarga, Syahid dengan mantap menyatakan ingin mati syahid seperti namanya. Pemikiran Syahid ini dipengaruhi situasi yang tegah ia hadapi dan ceramah yang sering diikuti. Puncaknya, saat sawah milik orang tuanya dibeli paksa oleh sebuah perusahaan ternama kepunyaan orang Amerika untuk dijadikan pabrik, Syahid berencana menjadi relawan bom bunuh diri.

Ketika film ini dirilis isu penting tentang pesantren yang mengemuka waktu itu adalah adanya pesantren yang digunakan untuk kaderisasi teroris. Namun ada hal yang masih membuat saya bingung tentang keberadaan pondok “garis keras” tempat Syahid sering ikut ceramah. Lha ini pondok lokasinya jauh atau dekat tidak ada gambaran yang lebih jelas. Kalau jauh kok mereka hanya berjalan kaki tapi kalau dekat kok waktu terjadi penggrebekan lokasinya tidak diperlihatkan.

Namun hal itu bukanlah satu-satunya isu yang coba diungkap. Selain kisah ketiga santri hal yang menarik adalah cerita-cerita dari pemeran lain seperti santri senior yang mengalami “kelainan” seksual. Sayangnya di film ini keberadaan santri ini menurut masih kurang jelas posisinya. Dia itu siapa dan sudah berapa lama melakukan itu.

Dari berbagai kisah dalam film ini saya bisa menarik satu garis lurus, meskipun mereka “produk” pesantren yang telah dibekali dengan berbagai hal namun lewat film ini sutradara seperti mengingatkan apapun bisa terjadi selepas keluar dari institusi ini. Para santri tetap saja sama sebagai manusia kondisi di luar bisa mengubah mereka menjadi saja. Mereka bisa menjadi semakin alim, jadi seniman, bahkan di sisi ekstrimnya bisa mengambil hidup di jalan “ekstrem” sebagai seorang teroris. Sekali lagi santri juga manusia yang punya rasa dan punya hati.

Fathoni Arief

Kisah kritik filmsantri

Navigasi pos

Previous post
Next post

Related Posts

Kisah

Mengenal Teori Natural Urban Transformation

Desember 9, 2022Juli 20, 2024

Integrasi spasial dari jaringan jalan cenderung tetap stabil untuk jangka waktu yang lebih lama daripada kepadatan bangunan dan penggunaan lahan Yu Ye (2012) Saat ini, ada dua teori tentang bagaimana kota bertransformasi berdasarkan penelitian Space Syntax, yaitu, teori proses ekonomi gerakan alami dan teori proses transformasi alami perkotaan. Teori proses…

Read More
Ekologi Budaya

Tentang Kabel Ruwet Di Langit Kita

Mei 20, 2024Agustus 7, 2024

“Maaf ini yang pasang kabel siapa ya? Kabelnya melewati teras lantai 2 rumah saya,” salah seorang warga perumahan tempat saya tinggal menulis pesan di grup Perumahan. “Saya takutnya kalau ada aliran listrik. Bagi yang merasa harap dipindahkan,” lanjutnya. Beberapa saat, tak ada satupun anggota grup yang membalas pesan tersebut. Salah…

Read More
Kisah Di dalam Kereta

Naik Pesawat Kapan Malamnya?

Juli 25, 2024Agustus 1, 2024

“Saya herannya ketika berangkat dari Bandara Soekarno Hatta hari sudah gelap. Namun ketika pesawat sudah terbang menuju Arab kok terang lagi. Ini kapan malamnya?” Cerita seorang bapak berusia 40 tahunan memulai perjalanan saya menuju Yogyakarta. Perlahan kereta meninggalkan stasiun Kediri menuju kota pelajar.

Read More

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

  • Lagu Sendu Sang Daradasih
  • Bunga Terakhir dari Balik Jeruji: Tragedi, Penantian, dan Penebusan
  • Mengenang Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso
  • Catatan Akhir Pekan: Tentang Menulis dengan Hati
  • Mengenang Ayrton Senna, Sang Legenda yang Menginspirasi

Galeri

Rubrik

  • Esai & Gagasan
    • Aneka
    • Arsitektur Vernakular
    • Cagar Budaya
    • Ekologi Budaya
    • Kampung Kota
    • lansekap
    • Sapa
    • Transportasi
  • Karir & Produktivitas
    • Tips Menulis
  • Kehidupan & Refleksi
    • Kisah
  • Perjalanan
    • Cerita Dari Kota Tua
  • Sastra & Cerita Pendek
    • Cerpen
    • Film

Kata Kunci

Arsitektur Arsitektur Vernakular bantuan Naskah Belajar Menulis Brand Story Telling Cagar Budaya cerita dari bayah cerita pendek Cerpen Cerpen bintang Cerpen Fathoni Arief Cerpen Tentang Ayah dunia kepenulisan gerbong senja Guru Daerah Terpencil Guru Papua Inspirasi Jakarta jasa penulis Jasa Penulisan Kawah Ijen Kisah Kisah Ayrton Senna kisah dari bayah kisah ibu kota Kisah Perjalanan Kopi menulis menulis produktif merjan merjan air mata mudik Naftali naik pesawat pertama kali pengalaman naik pesawat penulis penulis profesional perjalanan perjalanan ke kawah ijen Prof Hardjoso Rawa Jati sayap yang hilang sejarah kopi sisi lain tentang ibu kota sosok sugeng

Pos-pos Terbaru

  • Lagu Sendu Sang Daradasih
  • Bunga Terakhir dari Balik Jeruji: Tragedi, Penantian, dan Penebusan
  • Mengenang Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso
  • Catatan Akhir Pekan: Tentang Menulis dengan Hati
  • Mengenang Ayrton Senna, Sang Legenda yang Menginspirasi

Arsip

  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025
  • Desember 2024
  • Oktober 2024
  • September 2024
  • Agustus 2024
  • Juli 2024
  • Mei 2024
  • Juni 2023
  • Mei 2023
  • Desember 2022
  • November 2022
  • November 2021
  • Januari 2021
  • Januari 2020
  • September 2019
  • Juni 2019

Home | Perjalanan | Refleksi | Cerita | Esai | Jasa | Tentang

©2026 Blog Fathoniarief | WordPress Theme by SuperbThemes