Skip to content
Blog Fathoniarief
Blog Fathoniarief
  • Home
  • Salam Pembuka
  • Tentang Fathoni Arief
  • Indeks Daftar Artikel
Blog Fathoniarief

Cerita Dari Rawa Jati

admin, Juli 30, 2024Juli 31, 2024

Ada satu tempat di Jakarta yang meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Tempat itu adalah Rawajati. Tempat ini letaknya di belakang apartemen Kalibata dan tak jauh dari taman makam pahlawan Kalibata sekira sepuluh menit jalan kaki dengan kecepatan langkah biasa.

Alasan pertama tempat ini begitu berkesan adalah karena sosok Tan Malaka. Bapak bangsa yang terlupakan ini pernah tinggal di tempat ini. Dalam paragraf awal pembuka di buku Madilog Tan Menulis “ Ditulis di Rawajati dekat pabrik sepatu Kalibata Cililitan Jakarta. Disini saya berdiam dari 15 juli 1942 sampai dengan pertengahan tahun 1943, mempelajari keadaan kota dan kampung Indonesia yang lebih dari 20 tahun ditinggalkan. Waktu yang dipakai buat menulis Madilog, ialah lebih kurang 8 bulan dari 15 juli 1942 sampai dengan 30 maret 1943 (berhenti 15 hari), 720 jam, ialah kira-kira 3 jam sehari”. Pabrik sepatu yang dimaksud Tan Malaka adalah “Bata”.

Alasan kedua adalah karena saya pernah tinggal di sana. Saat saya tinggal di Rawajati pabrik ini sudah tidak beroperasi. Waktu itu saya tinggal di Rawajati hampir setahun. Saya tinggal di sebuah kos yang berlokasi tak jauh dari Tan Tinggal di sebuah kos yang sebenarnya cukup layak ditinggali namun beresiko terkena banjir. Pernah satu waktu di sore hari selepas hujan deras genangan air masuk kedalam rumah sekira sampai telapak mata kaki. Untung saja waktu itu tidak banyak barang yang berserakan di lantai.

Sebenarnya tempat saya tinggal itu lokasinya cukup strategis. Kos saya berdekatan dengan Mall Kalibata dan stasiun kereta Rawajati. Dari stasiun kalau pas lagi malas saya bisa sekali naik angkot atau jalan kaki. Ketika hari libur saya masih ingat terkadang saya jalan kaki ke stasiun naik KRL ke stasiun Jakarta kota. Dari Jakarta kota saya jalan kaki ke kawasan kota tua sekedar hunting foto.

Di Rawajati ini juga tempat saya merenung, meski tak bisa seperti Tan Malaka yang bisa menelurkan Madilog, setidaknya saya belajar tentang bagaimana para pendatang bertahan di tengah kerasnya kota.

Di Rawajati saya tinggal di pemukiman padat, dekat rel kereta. Menuju ke kos saya anda bisa menjumpai gang gang sempit yang hanya muat dilewati satu motor. Di sini tanah lapang menjadi sesuatu yang mewah bagi anak-anak untuk bermain bola. Sehingga ketika menemukan lahan kosong yang seukuran lapangan bulutangkis saja sudah menjadi kebahagiaan bagi mereka.

Seperti di samping kos saya. Ada sebuah lapangan bulutangkis milik warga. Lapangan yang sejak saya pertama kali datang jarang digunakan bermain bukutangkis. Lapangan yang justru setiap sabtu malam atau tiap libur digunakan anak-anak kampung bermain bola.

Mereka seperti orang kehausan yang diberi air. Mereka bermain bola dari sehabis Maghrib sampai jam 10 malam terkadang lebih. Awalnya saya jengkel melihat mereka bermain tak kenal waktu dan ternyata pemilik kos juga merasakan hal yang sama. Apalagi setiap mendengar suara bola yang ditendang membentur dinding atau mengenai asbes atap rumah cukup mengusik waktu istirahat. Bahkan saking jengkelnya pemilik kos, sudah jatuh korban beberapa bola yang masuk ke samping rumah melewati pagar. Bola plastik harus berakhir di dalam bak sampah di dapur dengan kondisi terbelah.

Seiring berjalannya waktu saya jadi berfikir. Ah sebenarnya bola-bola yang membentur atau mereka yang tak kenal waktu bukan semata-mata salah mereka. Untunglah dulu ketika masih kecil di kampung masih banyak lahan kosong tempat bermain bola. Lalu mereka? Anak-anak kecil itu jika harus dilarang bagaimana nantinya? Apakah bukanya lebih buruk jika mereka bermain di pinggir rel, tawuran, atau bertindak hal bodoh lain.

Sepak bola menjadi barang yang mahal

Milik mereka yang punya uang saja

Dan sementara kita disini

Di jalan ini

Bola kaki dari plastik

Ditendang mampir ke langit

Pecahlah sudah kaca jendela hati

Sebab terkena bola tentu bukan salah mereka. (mereka ada di jalan, Iwan Fals)

Tegalsari 15 Mei 2023

Fathoni Arief

 

Kampung Kota Kisah Rawa JatiTan Malaka

Navigasi pos

Previous post
Next post

Related Posts

Kisah

Catatan Perjalanan Banyuwangi

Agustus 6, 2024Mei 15, 2025

Ada banyak alasan seseorang mengikuti “travelling” mulai dari mencari spot foto yang menarik hingga kuliner khas. Namun saya memiliki alasan yang mungkin “beda”, yaitu untukmenikmati perjalanan itu sendiri. Saya suka berkunjung ke suatu tempat, menjumpai hal baru, berjumpa orang baru. Menurut saya percuma mengunjungi suatu tempat mendapatkan foto menarik namun…

Read More
Kisah

Bunga Terakhir dari Balik Jeruji: Tragedi, Penantian, dan Penebusan

Mei 29, 2025Mei 29, 2025

Pada dini hari tanggal 19 Juli 2008, pukul 00.20 WIB, dua peluru ditembakkan oleh regu tembak di Surabaya. Sugeng dan ibunya, Sumiarsih meregang nyawa. Ini adalah akhir dari penantian panjang keduanya. Akhir dari sebuah tragedi kelam yang telah terjadi dua dekade silam. Mereka bukan terpidana biasa. Nama mereka melekat dalam…

Read More
Kisah

Sepenggal Kisah Dari Bayah

Mei 24, 2023Mei 15, 2025

Ada satu daerah di Banten yang erat dengan sosok Tan Malaka. Daerah tersebut adalah Bayah. Saya punya kenangan berkesan dengan Bayah. Siang itu Saya dan rekan Sholat Jumat di sebuah Masjid di daerah Bayah. Masjid itu tepatnya di depan pom bensin, pinggir jalan raya arah Rangkasbitung. Selepas Sholat, karena kelelahan…

Read More

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

  • Lagu Sendu Sang Daradasih
  • Bunga Terakhir dari Balik Jeruji: Tragedi, Penantian, dan Penebusan
  • Mengenang Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso
  • Catatan Akhir Pekan: Tentang Menulis dengan Hati
  • Mengenang Ayrton Senna, Sang Legenda yang Menginspirasi

Galeri

Rubrik

  • Esai & Gagasan
    • Aneka
    • Arsitektur Vernakular
    • Cagar Budaya
    • Ekologi Budaya
    • Kampung Kota
    • lansekap
    • Sapa
    • Transportasi
  • Karir & Produktivitas
    • Tips Menulis
  • Kehidupan & Refleksi
    • Kisah
  • Perjalanan
    • Cerita Dari Kota Tua
  • Sastra & Cerita Pendek
    • Cerpen
    • Film

Kata Kunci

Arsitektur Arsitektur Vernakular bantuan Naskah Belajar Menulis Brand Story Telling Cagar Budaya cerita dari bayah cerita pendek Cerpen Cerpen bintang Cerpen Fathoni Arief Cerpen Tentang Ayah dunia kepenulisan gerbong senja Guru Daerah Terpencil Guru Papua Inspirasi Jakarta jasa penulis Jasa Penulisan Kawah Ijen Kisah Kisah Ayrton Senna kisah dari bayah kisah ibu kota Kisah Perjalanan Kopi menulis menulis produktif merjan merjan air mata mudik Naftali naik pesawat pertama kali pengalaman naik pesawat penulis penulis profesional perjalanan perjalanan ke kawah ijen Prof Hardjoso Rawa Jati sayap yang hilang sejarah kopi sisi lain tentang ibu kota sosok sugeng

Pos-pos Terbaru

  • Lagu Sendu Sang Daradasih
  • Bunga Terakhir dari Balik Jeruji: Tragedi, Penantian, dan Penebusan
  • Mengenang Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso
  • Catatan Akhir Pekan: Tentang Menulis dengan Hati
  • Mengenang Ayrton Senna, Sang Legenda yang Menginspirasi

Arsip

  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025
  • Desember 2024
  • Oktober 2024
  • September 2024
  • Agustus 2024
  • Juli 2024
  • Mei 2024
  • Juni 2023
  • Mei 2023
  • Desember 2022
  • November 2022
  • November 2021
  • Januari 2021
  • Januari 2020
  • September 2019
  • Juni 2019

Home | Perjalanan | Refleksi | Cerita | Esai | Jasa | Tentang

©2026 Blog Fathoniarief | WordPress Theme by SuperbThemes