Integrasi spasial dari jaringan jalan cenderung tetap stabil untuk jangka waktu yang lebih lama daripada kepadatan bangunan dan penggunaan lahan
Yu Ye (2012)
Saat ini, ada dua teori tentang bagaimana kota bertransformasi berdasarkan penelitian Space Syntax, yaitu, teori proses ekonomi gerakan alami dan teori proses transformasi alami perkotaan. Teori proses pergerakan alami (Hillier et al. 1993, 1998) memberikan dasar bagi teori natural urban transformation (Nes & Ye, 2014, hal. 1).
Teori ini menyatakan bahwa konfigurasi spasial jalan dan jaringan jalan mempengaruhi derajat kepadatan bangunan dan derajat multi fungsi tata guna lahan. Semakin tinggi integrasi spasial keseluruhan jaringan mobilitas pada berbagai skala, semakin tinggi kepadatan bangunan (baik untuk Floor Space Index (FSI) maupun Gross Space Index (GSI)) dan semakin tinggi keragaman penggunaan lahan (Van Nes & Yamu, Introduction to Space Syntax In Urban Studies, 2021, hal. 178).
Teori proses transformasi perkotaan alami diaplikasikan (natural urban transformation process) Yu Ye (2012) untuk meneliti empat kota di Belanda (Lelystad, Alemere, Zoetermeer dan Haarlem). Seperangkat indikator sosial-ekonomi yang tersedia, termasuk kepadatan penduduk, pekerjaan, keragaman populasi, fasilitas dll, digunakan untuk menilai berbagai fase transformasi kota-kota tersebut. Aplikasi dari metode analisis kuantitatif menunjukkan bagaimana integrasi jaringan jalan, kepadatan bangunan dan tipologi, serta tingkat campuran penggunaan lahan berinteraksi satu dengan yang lain dalam fase berbeda dari proses transformasi perkotaan.
Menurut Yu ye (2012), integrasi spasial dari jaringan jalan cenderung tetap stabil untuk jangka waktu yang lebih lama daripada kepadatan bangunan dan penggunaan lahan. Oleh karena itu, proses transformasi perkotaan yang alami secara spasial didasarkan pada akumulasi kepadatan bangunan serta keragaman penggunaan lahan yang didukung oleh jaringan jalan yang terintegrasi dengan baik.
Jadi, teori natural urban transformation menjelaskan bagaimana fungsi lingkungan binaan terlepas dari proses perencanaan sehubungan dengan rencana penggunaan lahan yang terbatas, persyaratan untuk Floor Space Index (FSI) atau Gross Space Index (GSI) maksimum atau minimum, dan konfigurasi spasial jaringan jalan. Tingkat campuran penggunaan lahan tergantung pada kedua tingkat bangunan kepadatan dan konfigurasi spasial jaringan jalan. (Van Nes & Yamu, Introduction to Space Syntax In Urban Studies, 2021, hal. 178).
Dalam teori transformasi perkotaan alami, konfigurasi spasial jalan jaringan, sebagai dasar untuk mengarahkan transformasi perkotaan, mempengaruhi tingkat kepadatan bangunan dan keragaman penggunaan lahan. Demikian pula, tingkat kepadatan bangunan dalam jangka panjang mempengaruhi tingkat keragaman penggunaan lahan. Asumsi pertama dari korelasi ini dibuat setelah tahun 2010 (Hausleitner 2010; Van Nes et al. 2012) dan akhirnya diklarifikasi pada tahun 2014 (Ye dan Van Nes 2014).