GIS (Sistem Informasi Geografis) merupakan bagian penting dari proses perencanaan dan desain kota. Selama ini GIS lebih sering dikaitkan dengan sains, dan tidak begitu banyak dengan desain. Geodesign membawa hal baru untuk mengguncang gagasan GIS. Geodesign adalah cara berpikir baru tentang proses desain untuk arsitek lansekap, desainer perkotaan, dan perencana lingkungan binaan. Konsep geodesign mengacu pada ilmu memperkenalkan analisis geografis ke dalam proses desain perkotaan. Geodesign menyediakan kerangka kerja desain dan teknologi pendukung bagi para profesional desain untuk memanfaatkan informasi geografis, menghasilkan desain yang lebih dekat mengikuti situs dan sistem alam.
Lalu sebenarnya apa itu geodesign? Steinitz (2012) mengusulkan definisi geodesign yang terkenal sebagai metodologi yang mendukung desain melalui penggunaan geografi. Lebih spesifik lagi, geodesign adalah ” metode desain dan perencanaan yang secara erat memasangkan pembuatan proposal desain dengan simulasi dampak yang diinformasikan oleh konteks geografis ” (Flaxman, 2010). Perancangan kota adalah ”suatu upaya menggabungkan seni dan ilmu pengetahuan” (Mumford, 2009, p.viii) yang secara umum dapat dianggap sebagai ”menganalisis, mengatur, dan membentuk bentuk perkotaan untuk mengelaborasi pengalaman hidup penduduk yang kaya dan koheren ” (Buchanan, 1988; dikutip dalam Cowan dan Rogers, 2005, hal. 416).
Mengenal Prinsip Geodesign
Geodesign baru-baru ini muncul sebagai metode untuk menggabungkan analisis geografis ke dalam domain lingkungan binaan, melengkapi pertumbuhan sistem informasi geografis (SIG) sebagai platform digital dasar (Dangermond, 2013; Flaxman, 2010). Geodesign adalah kerangka kerja yang lebih cerdas dalam memanfaatkan data situs dan informasi geografis untuk membuat, menilai, merancang, serta memvisualisasikan desain kota dan konsep lansekap Anda yang lebih cerdas. Geodesign membawa inventarisasi dan analisis situs ke tingkat yang baru yaitu menggunakan data geografis dan buat desain berbasis bukti.
Geodesign mempromosikan perancangan dengan geografi alih-alih merancang di sekitar geografi. Geodesign mengintegrasikan nilai sains, sosial, dan estetika ke dalam perencanaan lanskap dengan alat GIS yang mendukung evaluasi cepat alternatif desain terhadap dampak desain tersebut. Geodesign menanamkan desain dengan perpaduan informasi berbasis sains dan nilai untuk membantu desainer, perencana, dan pemangku kepentingan membuat keputusan yang lebih tepat. Geodesign pertama kali dianut oleh arsitek lanskap untuk memetakan konteks geografis situs mereka dan kemudian diadaptasi oleh perencana penggunaan lahan dan transportasi untuk mengatasi konflik dan memfasilitasi korespondensi antara karakteristik yang berbeda (Batty, 2013). Namun, penerapan geodesign dalam desain perkotaan jarang sebanding dengan praktik lanskap yang sudah mapan. Upaya yang ada kurang dan lebih fokus pada bentuk perkotaan.