Skip to content
Blog Fathoniarief
Blog Fathoniarief
  • Home
  • Salam Pembuka
  • Tentang Fathoni Arief
  • Indeks Daftar Artikel
Blog Fathoniarief

Konflik Di Eks Pabrik Es Sari Petojo Solo

admin, Januari 12, 2021Januari 12, 2021

Konflik akibat rencana alih fungsi bangunan cagar budaya bekas pabrik es Sari Petojo sempat mengemuka di tahun 2011 hingga 2013. Terkait awal mula terjadinya konflik dalam penelitiannya Okta Dwi Prabowo, ia menemukan fakta, kisruh ini sebenarnya bermula dari kegiatan pembongkaran bangunan Pabrik Es Saripetojo yang dilakukan pihak pengembang -PT. Whira Taruna- secara sepihak. Padahal sebelumnya sudah ada Surat Pemerintah Kota Surakarta yang menyatakan, bangunan tersebut masih dalam proses penentuan status cagar budaya oleh Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan.

Suasana jadi makin memanas setelah Gubernur Jawa Tengah memberi komentar. Mengutip dari Solopos.com orang nomor satu di Jawa Tengah saat itu, Bibit Waluyo, mengatakan tanah tersebut milik pemerintah bukan swasta sehingga tak ada alasan untuk menolaknya.” lha wong tanah pemerintah kok diprotes. Pembangunan mal jalan terus,” kata Bibit.

Rencana Gubernur tersebut rupanya ditentang mentah-mentah oleh Walikota yang menjabat saat itu, Joko Widodo.  Mengutip Tirto.id , Jokowi menilai, lahan bangunan kuno bekas pabrik es Saripetojo yang didirikan tahun 1888, sudah selayaknya dijadikan cagar budaya, bukan justru dihancurkan, apalagi untuk dibangun mal. Selain itu Perda No. 1 Tahun 2010 tentang Perlindungan Pasar Tradisional, yang mewajibkan Pemerintah kota Surakarta melindungi pasar tradisional juga menjadi pertimbangan. Rencana pembangunan mall pun sempat terhenti.

Rupanya konflik tersebut kian meluas tak hanya antara Walikota dengan Gubernur saja namun melibatkan masyarakat Surakarta. “Konflik yang seharusnya bisa diselesaiakan dengan koordinasi antar pemerintah dalam satu kewilayahan ini menjadi polemik yang panjang” KPPOD Edisi April-Juni 2014.

Perjalanan panjang konflik hingga terjadi kesepakatan antara kedua belah pihak sempat mewarnai pemberitaan di media cetak. Bertahun –tahun tanpa solusi polemik eks pabrik es Sari Petojo akhirnya usai. Melalui keputusan Gubernur Jawa Tengah. Sebagai keputusan akhir bangunan pabrik dianggap bukan cagar budaya dan mengutip dari tempo.co “Status cagar budaya hanya diberikan terhadap bangunan bekas rumah dinas manajer yang ada tepat di samping bangunan utama pabrik es, yang dulunya bernama Soloshe Ist Wastahoppy”.

Konflik selesai dengan kesepakatan namun ada perubahan rencana pembangunan dalam memanfaatkan lahan tersebut, yang pada mulanya untuk kawasan mall menjadi hotel (13.000 m2) dan sebagian lagi menjadi bangunan cagar budaya (400 m2). Pembangunan itu sempat mendapat penolakan dari warga, namun prosesnya terus berlanjut hingga.

Pabrik Es Saripetojo di Solo pertama kali dibangun pada tahun 1888 pada masa pemerintahan Belanda, pada tahun 1921 pabrik tersebut jatuh ke tangan Jepang dan pada tahun 1944 kembali direbut oleh Bangsa Belanda yang akirnya dihancurkan.

Pada Jaman Hindia Belanda, Pabrik es ini diperuntukkan untuk mendukung industri di sekitarnya karena pada saat itu teknologi pengawetan satu-satunya adalah es. Beberapa tempat yang membutuhkan es pada masa itu adalah pabrik gula Tasikmadu yang berfungsi untuk mengawetkan beberapa bahan baku dan Colomadu berfungsi untuk mengawetkan daging ditempat penyembelihan sapi. Pada tahun 2006-2010 usaha es tersebut mengalami kerugian sekitar Rp 323 juta, serta ditambah utang pajak bumi sekitar Rp 218 juta.

Penulis : Fathoni Arief

Mahasiswa Program Pasca Sarjana Arsitektur UNS

Daftar Pustaka

Wulansari, A. (2012) Polemik Saripetojo dalam Media. Diakses dari digilib.uns.ac.id

Aisyah Arminia. (2016, September 09) Riwayat Saripetojo yang Tinggal Sejarah. Diakses dari Pabelan-online.com

Cagar Budaya Cagar BudayaSari Petojo

Navigasi pos

Previous post
Next post

Related Posts

Cagar Budaya

Mengenal Konsep Kearifan Arsitektur Lokal

Desember 5, 2022Juli 20, 2024

Menurut Koentjaraningrat konsep lokalitas diperkenalkan oleh arkeolog H.G Quaritch Wales dalam tulisannya berjudul “The Making of Greater India: A Study in South-East Asia Culture Change” yang dimuat dalam Journal of the Royal Asiatic Sociaty (1948). Ciri-ciri khas atau yang biasa disebut sebagai ‘pribumi’ itulah, yang oleh Wales diistilahkan ‘local genius’,…

Read More
Cagar Budaya

Permasalahan Seputar Pengelolaan Cagar Budaya

Januari 13, 2021

Terkait seputar kondisi cagar budaya di tanah air, Beritagar.id di tanah 2018 pernah mengulasnya (lihat gambar 1). Mereka menyajikan data tentang kondisi cagar budaya beserta masalah yang sedang dihadapi. Dari data yang berhasil dihimpun menunjukkan ada 17,2 persen cagar budaya tidak terawat. Mayoritas dalam kondisi yang tidak bersih, lapuk, rapuh,…

Read More
Cagar Budaya

Mengenal Seluk Beluk Cagar Budaya

Januari 12, 2021Januari 12, 2021

Setiap kali menyebut “warisan cagar budaya”, biasanya yang muncul di benak sebagian besar orang gambaran bangunan tua baik berupa tempat ibadah, istana, candi, benteng dan bangunan lain seperti sekolah dan sebagainya. (Steinberg, 1996) Pemahaman ini biasanya mengesampingkan keberadaan kawasan pemukiman, pusat kota bersejarah padahal sebenarnya juga termasuk  sebagai bagian dari cagar…

Read More

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

  • Lagu Sendu Sang Daradasih
  • Bunga Terakhir dari Balik Jeruji: Tragedi, Penantian, dan Penebusan
  • Mengenang Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso
  • Catatan Akhir Pekan: Tentang Menulis dengan Hati
  • Mengenang Ayrton Senna, Sang Legenda yang Menginspirasi

Galeri

Rubrik

  • Esai & Gagasan
    • Aneka
    • Arsitektur Vernakular
    • Cagar Budaya
    • Ekologi Budaya
    • Kampung Kota
    • lansekap
    • Sapa
    • Transportasi
  • Karir & Produktivitas
    • Tips Menulis
  • Kehidupan & Refleksi
    • Kisah
  • Perjalanan
    • Cerita Dari Kota Tua
  • Sastra & Cerita Pendek
    • Cerpen
    • Film

Kata Kunci

Arsitektur Arsitektur Vernakular bantuan Naskah Belajar Menulis Brand Story Telling Cagar Budaya cerita dari bayah cerita pendek Cerpen Cerpen bintang Cerpen Fathoni Arief Cerpen Tentang Ayah dunia kepenulisan gerbong senja Guru Daerah Terpencil Guru Papua Inspirasi Jakarta jasa penulis Jasa Penulisan Kawah Ijen Kisah Kisah Ayrton Senna kisah dari bayah kisah ibu kota Kisah Perjalanan Kopi menulis menulis produktif merjan merjan air mata mudik Naftali naik pesawat pertama kali pengalaman naik pesawat penulis penulis profesional perjalanan perjalanan ke kawah ijen Prof Hardjoso Rawa Jati sayap yang hilang sejarah kopi sisi lain tentang ibu kota sosok sugeng

Pos-pos Terbaru

  • Lagu Sendu Sang Daradasih
  • Bunga Terakhir dari Balik Jeruji: Tragedi, Penantian, dan Penebusan
  • Mengenang Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso
  • Catatan Akhir Pekan: Tentang Menulis dengan Hati
  • Mengenang Ayrton Senna, Sang Legenda yang Menginspirasi

Arsip

  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025
  • Desember 2024
  • Oktober 2024
  • September 2024
  • Agustus 2024
  • Juli 2024
  • Mei 2024
  • Juni 2023
  • Mei 2023
  • Desember 2022
  • November 2022
  • November 2021
  • Januari 2021
  • Januari 2020
  • September 2019
  • Juni 2019

Home | Perjalanan | Refleksi | Cerita | Esai | Jasa | Tentang

©2026 Blog Fathoniarief | WordPress Theme by SuperbThemes