Skip to content
Blog Fathoniarief
Blog Fathoniarief
  • Home
  • Salam Pembuka
  • Tentang Fathoni Arief
  • Indeks Daftar Artikel
Blog Fathoniarief

Permasalahan Seputar Pengelolaan Cagar Budaya

admin, Januari 13, 2021

Terkait seputar kondisi cagar budaya di tanah air, Beritagar.id di tanah 2018 pernah mengulasnya (lihat gambar 1). Mereka menyajikan data tentang kondisi cagar budaya beserta masalah yang sedang dihadapi. Dari data yang berhasil dihimpun menunjukkan ada 17,2 persen cagar budaya tidak terawat. Mayoritas dalam kondisi yang tidak bersih, lapuk, rapuh, roboh, atau bahkan sudah hilang separuh bagian (lihat gambar 2). Sementara 52,5 persen lainnya masih terawat meski beberapa di antaranya sudah tak lagi utuh. Jawa Tengah adalah provinsi dengan jumlah cagar budaya tak terawat paling banyak, 302 buah, disusul Sumatra Selatan sebanyak 126 buah.

Pengelolaan cagar budaya di tanah air memang masih terkendala dengan beragam permasalahan. Masalah yang muncul mulai dari siapa sebenarnya yang berhak mengelola sampai pada seperti apa model. Terkait dengan data di atas, dari 1.454 daftar cagar budaya yang tak terawat, 449 di antaranya menjelaskan detail permasalahan yang dihadapi. Minimnya dana dan petugas atau tenaga ahli yang merawat cagar budaya menjadi persoalan utama. Permasalahan berikutnya adalah minimnya upaya renovasi atau perawatan infrastruktur juga menjadi perhatian. Ada juga masalah karena minimnya petugas. Ironisnya, kedua persoalan ini juga dialami oleh cagar budaya yang sudah memiliki dasar hukum.

Kesimpulannya, dasar hukum dan komitmen di atas kertas rupanya masih tidak cukup dalam kegiatan pengelolaan cagar budaya walaupun aturan hukum tetap jadi bagian penting dalam pelestarian. Masalah lain yang muncul yakni ketidakjelasan status kepemilikan. Misalnya, bangunan bekas penjara tentara peninggalan penjajahan Belanda di Desa Gemuh, Kecamatan Barong Tongkok, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Yang menjadi persoalan adalah status kepemilikan lahan di lokasi berdirinya cagar budaya belum jelas, apakah milik warga atau pemerintah setempat. Dengan rentetan masalah tersebut, tak semua tantangan pengelolaan mampu dijawab pemerintah. Di beberapa daerah, telah muncul kesadaran dari masyarakat untuk ikut melestarikan cagar budaya yang menjadi saksi sejarah peradaban.

Daud Tanudirjo, Arkeolog Universitas Gadjah Mada, dalam makalah bertajuk Warisan Budaya untuk Semua (2003) memaparkan, setelah Indonesia merdeka, pengelolaan warisan budaya dilakukan oleh bangsa Indonesia sendiri. Namun, kebijakan pengelolaan tidak mengalami perubahan berarti. Monumenten Ordonantie 1931 tetap menjadi landasannya. Pada umumnya, mereka memaknai warisan budaya secara ‘formal’ sebagaimana disebut dalam MO 1931 yang lebih menekankan nilai penting dari segi keilmuan. Padahal, masyarakat tentu memiliki pemaknaannya sendiri yang lebih beragam dan umumnya bersifat praktis. Akibatnya, upaya pengelolaan warisan budaya di Indonesia seringkali diwarnai dengan konflik kepentingan antara masyarakat dan pemerintah.

Menurut Tanudirjo (2003) keraguan masyarakat terhadap arah kebijakan pelestarian warisan budaya akhirnya memuncukan perhatian terhadap pelestarian warisan budaya. Masyarakat pada hakekatnya mempunyai konsep pelestariannya sendiri, ethnoconservation. Menurut Mulyadi (2016), sudah saatnya pemerintah mengambil berperan sebagai fasilitator dalam pengelolaan dan pemanfaatan Cagar Budaya untuk membantu masyarakat dalam proses pemaknaan atau pemanfaatan Cagar Budaya itu. Para pengelola Cagar Budaya dari unsur pemerintah dapat memberikan masukan-masukan sesuai dengan keahlian dan pengetahuan, sehingga masyarakat dapat menentukan pilihan mereka sendiri dengan tepat.

Konsep ini disebut (Mulyadi, 2016) sebagai pengelolaan yang mengarah pada partisipasi publik ini, menjadi peluang bagi masyarakat untuk menjadi aktor utama dalam pengelolaan Cagar Budaya yang berwawasan pelestarian.

Penulis : Fathoni Arief

Mahasiswa Pasca Sarjana Arsitektur UNS

Sumber Foto : Solopos.com, Beritagar.id

Daftar Pustaka

Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. (2010).

Adzkia, A. (2018, November Sabtu). Merawat cagar budaya, mencatat peradaban. Retrieved Januari Minggu, 2021, from https://beritagar.id/: https://beritagar.id/artikel/berita/merawat-cagar-budaya-mencatat-peradaban

Koeswara, I. (2020). Pengembangan Situs Purbakala Sangiran. UNPAD Press.

Kurniati, F. F. (2018). Pelestarian Urban Heritage Berdasarkan Upaya Perlindungan. Prosiding Nasional Rekayasa Teknologi Industri dan Informasi XIII Tahun 2018 (ReTII).

Mulyadi, Y. (2016). Pemanfaatan Cagar Budaya Berbasis Partisipasi Masyarakat Sebagai Model Pengelolaan Cagar Budaya Di Kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat. Indonesiana.

Steinberg, F. (1996). Conservation and Rehabilitation of Urban Heritage in Developing Countries. Habitat International.

 

 

Cagar Budaya Cagar Budaya

Navigasi pos

Previous post
Next post

Related Posts

Cagar Budaya

Mengenal Konsep Kearifan Arsitektur Lokal

Desember 5, 2022Juli 20, 2024

Menurut Koentjaraningrat konsep lokalitas diperkenalkan oleh arkeolog H.G Quaritch Wales dalam tulisannya berjudul “The Making of Greater India: A Study in South-East Asia Culture Change” yang dimuat dalam Journal of the Royal Asiatic Sociaty (1948). Ciri-ciri khas atau yang biasa disebut sebagai ‘pribumi’ itulah, yang oleh Wales diistilahkan ‘local genius’,…

Read More
Cagar Budaya

Mengenal Seluk Beluk Cagar Budaya

Januari 12, 2021Januari 12, 2021

Setiap kali menyebut “warisan cagar budaya”, biasanya yang muncul di benak sebagian besar orang gambaran bangunan tua baik berupa tempat ibadah, istana, candi, benteng dan bangunan lain seperti sekolah dan sebagainya. (Steinberg, 1996) Pemahaman ini biasanya mengesampingkan keberadaan kawasan pemukiman, pusat kota bersejarah padahal sebenarnya juga termasuk  sebagai bagian dari cagar…

Read More
Cagar Budaya

Konflik Di Eks Pabrik Es Sari Petojo Solo

Januari 12, 2021Januari 12, 2021

Konflik akibat rencana alih fungsi bangunan cagar budaya bekas pabrik es Sari Petojo sempat mengemuka di tahun 2011 hingga 2013. Terkait awal mula terjadinya konflik dalam penelitiannya Okta Dwi Prabowo, ia menemukan fakta, kisruh ini sebenarnya bermula dari kegiatan pembongkaran bangunan Pabrik Es Saripetojo yang dilakukan pihak pengembang -PT. Whira…

Read More

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

  • Lagu Sendu Sang Daradasih
  • Bunga Terakhir dari Balik Jeruji: Tragedi, Penantian, dan Penebusan
  • Mengenang Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso
  • Catatan Akhir Pekan: Tentang Menulis dengan Hati
  • Mengenang Ayrton Senna, Sang Legenda yang Menginspirasi

Galeri

Rubrik

  • Esai & Gagasan
    • Aneka
    • Arsitektur Vernakular
    • Cagar Budaya
    • Ekologi Budaya
    • Kampung Kota
    • lansekap
    • Sapa
    • Transportasi
  • Karir & Produktivitas
    • Tips Menulis
  • Kehidupan & Refleksi
    • Kisah
  • Perjalanan
    • Cerita Dari Kota Tua
  • Sastra & Cerita Pendek
    • Cerpen
    • Film

Kata Kunci

Arsitektur Arsitektur Vernakular bantuan Naskah Belajar Menulis Brand Story Telling Cagar Budaya cerita dari bayah cerita pendek Cerpen Cerpen bintang Cerpen Fathoni Arief Cerpen Tentang Ayah dunia kepenulisan gerbong senja Guru Daerah Terpencil Guru Papua Inspirasi Jakarta jasa penulis Jasa Penulisan Kawah Ijen Kisah Kisah Ayrton Senna kisah dari bayah kisah ibu kota Kisah Perjalanan Kopi menulis menulis produktif merjan merjan air mata mudik Naftali naik pesawat pertama kali pengalaman naik pesawat penulis penulis profesional perjalanan perjalanan ke kawah ijen Prof Hardjoso Rawa Jati sayap yang hilang sejarah kopi sisi lain tentang ibu kota sosok sugeng

Pos-pos Terbaru

  • Lagu Sendu Sang Daradasih
  • Bunga Terakhir dari Balik Jeruji: Tragedi, Penantian, dan Penebusan
  • Mengenang Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso
  • Catatan Akhir Pekan: Tentang Menulis dengan Hati
  • Mengenang Ayrton Senna, Sang Legenda yang Menginspirasi

Arsip

  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025
  • Desember 2024
  • Oktober 2024
  • September 2024
  • Agustus 2024
  • Juli 2024
  • Mei 2024
  • Juni 2023
  • Mei 2023
  • Desember 2022
  • November 2022
  • November 2021
  • Januari 2021
  • Januari 2020
  • September 2019
  • Juni 2019

Home | Perjalanan | Refleksi | Cerita | Esai | Jasa | Tentang

©2026 Blog Fathoniarief | WordPress Theme by SuperbThemes