Skip to content
Blog Fathoniarief
Blog Fathoniarief
  • Home
  • Salam Pembuka
  • Tentang Fathoni Arief
  • Indeks Daftar Artikel
Blog Fathoniarief

Alasan Kenapa Saya Rindu Jakarta?

admin, Juli 18, 2024Juli 18, 2024

Ada satu pepatah yang sering saya dengar terkait dengan Jakarta, “Sekejam-kejamnya ibu tiri masih lebih kejam ibu kota”. 

Sebagian orang mengamini pepatah tersebut dan faktanya dalam keseharian mereka mengalami kerasnya hidup serta berbagai hal yang akhirnya membuat mereka perlahan keluar dari kota ini. Namun tak sedikit juga yang tidak terpengaruh dengan pepatah dan berbagai kisah pilu di sini mereka berbekal mimpi berduyun-duyun memadati kota yang semakin sesak ini.

Lalu seperti apa Jakarta menurut pandangan saya? Dalam hati terdalam, saya tidak bisa mengingkari kota ini memang tidak senyaman Tulungagung tempat saya lahir, ataupun Yogyakarta kota dimana saya menuntut ilmu. Namun entah kenapa disaat saya jauh dari kota ini, ada satu kerinduan untuk kembali. Satu perasaan yang belum pernah saya rasakan sebelum 3 tahun yang lalu (pertengahan tahun 2007) saat memutuskan hijrah ke kota ini.

Sesuatu yang aneh memang, sebelum 3 tahun lalu saya melihat dan membayangkan ibukota yang terbersit adalah ketakutan, kesumpekan, keruwetan. Ketakutan yang disebarkan berita-berita kejahatan yang saya baca atau llihat di media baik cetak maupun elektronik. Kesumpekan muncul ketika membayangkan konon orang Jakarta tinggal di gang-gang sempit, pinggiran rel, daerah-daerah kumuh lain dan hanya orang kaya yang bisa punya rumah yang lebih layak. Sedangkan keruwetan muncul membayangkan bagaimana rasanya berkendara di Jakarta mobil, bis, motor, truk tumpah ruah di jalan hampir setiap hari dan setiap saat. Perasaan itu muncul juga membayangkan bagaimana bisa para penumpang kereta harus berjubel bahkan hingga naik atap kereta.

Lalu, mungkin ada yang bertanya kapan saya mulai suka atau lebih tepatnya jatuh cinta dengan kota ini? Semua sebenarnya melalui sebuah proses tepat seperti satu pepatah yang cukup masyhur, “tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta”. Ketika saya mulai mengenal kota ini, apa saja mulai dari kejahatan, peluang, fasilitas, ternyata tanpa sadar timbul perasaan nyaman. Saya menikmati hidup di kota ini.

Saya masih ingat, dulu saya begitu gugup berkendara di Jakarta naik sepeda motor. Berjalan kaki sendiri di sebuah daerah barupun timbul was-was yang berlebihan. Saya juga masih ingat rasanya pertama kali naik angkot sendirian, bayangan dan imajinasi aneh-aneh langsung muncul. Perlahan rasa tersebut hilang dan ketika menemukan tips dan trik untuk menikmati fasilitas dengan aman dan nyaman akhirnya terkadang rasa takut dan was-was bisa berubah 180 derajat.

Ada satu pengalaman, saya naik Kereta Rel Listrik. Terus terang saja dulu saya begitu takut naik KRL. Belum naik di stasiunpun sudah timbul rasa was-was apalagi masa-masa pertama kali di Jakarta. Namun kini KRL menjadi transportasi yang begitu saya andalkan dan begitu saya nikmati apalagi ketika mengetahui bagaimana tips dan trik meminimalisir supaya tidak jadi korban copet. Seringkali saya memilih naik KRL jika hendak menuju kota atau ke arah Bogor. Selain lebih murah KRL lebih cepat dibanding sarana yang lain.

Saya kini bisa menikmati kota ini. Meskipun saat ini saya tinggal di daerah gang yang relatif sempit ternyata masih nyaman juga jika bisa memilih yang bersih dan murah. Sehari-hari saya naik sepeda motor dan seringkali macet memang namun yang penting kehati-hatian dalam berkendara harus tetap diperhatikan. Satu hal lagi tentang kota ini yang membuat saya rindu di kota ini saya menemukan sahabat-sahabat baru tak hanya satu dua bahkan cukup banyak. Bersama merekalah saya sering berjalan-jalan menikmati kota ini.

Jakarta dengan segala kurang dan lebihnya tetaplah magnet yang mampu menarik jutaan warga baru. Namun banyak hal yang tak boleh terlupa butuh tak sekedar niat saja untuk bisa bertahan di kota ini. Butuh kerja keras dan kerja keras agar justru tak menjadi benalu yang menambah beban masalah tak hanya bagi pemerintah namun masyarakat Jakarta sendiri. Terakhir perlu mengenali seluk beluk Jakarta untuk bisa sekedar antisipasi dari sumber yang benar dan selalu kewaspadaan tetap perlu meskipun kita sudah merasa aman dan nyaman di kota ini.

Jakarta tak hanya milik warganya. Makanya sama-sama Nyok kita jage Jakarte! (meski ngomongnya pakai logat medhok khas Jawa Timuran..hehe)

Jakarta 18 Januari 2010

Kampung Kota IbukotaJakarta

Navigasi pos

Previous post
Next post

Related Posts

Kampung Kota

Cerita Dari Rawa Jati

Juli 30, 2024Juli 31, 2024

Ada satu tempat di Jakarta yang meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Tempat itu adalah Rawajati. Tempat ini letaknya di belakang apartemen Kalibata dan tak jauh dari taman makam pahlawan Kalibata sekira sepuluh menit jalan kaki dengan kecepatan langkah biasa. Alasan pertama tempat ini begitu berkesan adalah karena sosok Tan Malaka….

Read More
Kampung Kota

Metode Penanganan Kawasan Kumuh Land Consoliditasion

Desember 1, 2022

Ada sebuah fenomena permukiman khas yang ada di kota-kota Indonesia yaitu kampung kota. Umumnya kampung kota dihuni pendatang dari desa yang tertelan pesatnya perkembangan kota lalu menjelma menjadi permukiman di dalam kota (Taylor dalam Widjaja, 2013). Kampung Kota dibangun swadaya mandiri dan tumbuh secara organik dan memiliki ciri kepadatan dan…

Read More
Kampung Kota Ilustrasi Kampung Kumuh

Penanganan Kampung Kota Dari Masa Ke Masa

November 1, 2021November 1, 2021

Salah satu permasalahan yang terjadi dalam pembangunan perumahan di Indonesia adalah munculnya pemukiman kumuh dan pertumbuhan penduduk yang tidak sesuai dengan tata ruang. Permukiman kumuh adalah permukiman yang tak layak huni karena ketidakteraturan bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang tinggi, dan kualitas bangunan serta sarana dan prasarana yang tidak memenuhi syarat…

Read More

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

  • Lagu Sendu Sang Daradasih
  • Bunga Terakhir dari Balik Jeruji: Tragedi, Penantian, dan Penebusan
  • Mengenang Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso
  • Catatan Akhir Pekan: Tentang Menulis dengan Hati
  • Mengenang Ayrton Senna, Sang Legenda yang Menginspirasi

Galeri

Rubrik

  • Esai & Gagasan
    • Aneka
    • Arsitektur Vernakular
    • Cagar Budaya
    • Ekologi Budaya
    • Kampung Kota
    • lansekap
    • Sapa
    • Transportasi
  • Karir & Produktivitas
    • Tips Menulis
  • Kehidupan & Refleksi
    • Kisah
  • Perjalanan
    • Cerita Dari Kota Tua
  • Sastra & Cerita Pendek
    • Cerpen
    • Film

Kata Kunci

Arsitektur Arsitektur Vernakular bantuan Naskah Belajar Menulis Brand Story Telling Cagar Budaya cerita dari bayah cerita pendek Cerpen Cerpen bintang Cerpen Fathoni Arief Cerpen Tentang Ayah dunia kepenulisan gerbong senja Guru Daerah Terpencil Guru Papua Inspirasi Jakarta jasa penulis Jasa Penulisan Kawah Ijen Kisah Kisah Ayrton Senna kisah dari bayah kisah ibu kota Kisah Perjalanan Kopi menulis menulis produktif merjan merjan air mata mudik Naftali naik pesawat pertama kali pengalaman naik pesawat penulis penulis profesional perjalanan perjalanan ke kawah ijen Prof Hardjoso Rawa Jati sayap yang hilang sejarah kopi sisi lain tentang ibu kota sosok sugeng

Pos-pos Terbaru

  • Lagu Sendu Sang Daradasih
  • Bunga Terakhir dari Balik Jeruji: Tragedi, Penantian, dan Penebusan
  • Mengenang Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso
  • Catatan Akhir Pekan: Tentang Menulis dengan Hati
  • Mengenang Ayrton Senna, Sang Legenda yang Menginspirasi

Arsip

  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025
  • Desember 2024
  • Oktober 2024
  • September 2024
  • Agustus 2024
  • Juli 2024
  • Mei 2024
  • Juni 2023
  • Mei 2023
  • Desember 2022
  • November 2022
  • November 2021
  • Januari 2021
  • Januari 2020
  • September 2019
  • Juni 2019

Home | Perjalanan | Refleksi | Cerita | Esai | Jasa | Tentang

©2026 Blog Fathoniarief | WordPress Theme by SuperbThemes