Skip to content
Blog Fathoniarief
Blog Fathoniarief
  • Home
  • Salam Pembuka
  • Tentang Fathoni Arief
  • Indeks Daftar Artikel
Blog Fathoniarief

Sepenggal Cerita dari Kawah Ijen

admin, Agustus 8, 2024April 21, 2025

Meskipun saya hobi jalan kaki, namun jika harus melewati rute menanjak seringkali saya berfikir dua kali. Saya punya banyak pengalaman bagaimana rasanya “ngos-ngosan” jangankan naik gunung bahkan hanya untuk naik sekelas bukit saja saya sudah menyerah duluan.

Pernah satu waktu saya naik sebuah bukit tak jauh dari Pantai Pelabuhan Ratu. Naik bukit yang tak begitu tinggi kaki saya rasanya sudah pegal-pegal dan penuh dengan olesan “balpirik” malam harinya. Tapi entah kenapa walaupun benci selalu ada rasa penasaran untuk mencoba lagi.
Naik ke Kawah Ijen juga salah satu penasaran saya. Bukan karena penasaran seperti apa kawah Ijen tapi lebih ke kira-kira dengan kondisi jarang olahraga saya masih mapu naik atau tidak. Oiya, sebelum ke kawah Ijen beberapa bulan lalu saya sempat ikut tour ke Dieng naik ke bukit Sikunir. Menapaki anak tangga Sikunir yang hanya butuh waktu singkat rasanya juga sama nafas seperti mau copot dan kaki lemas.
Perjalanan ke kawah Ijen kali ini saya juga ikut tour. H-5 jelang berangkat saya melihat story di Instagram dan iseng-iseng bertanya apakah masih ada kursi yang kosong. Ternyata masih ada dan hari itu juga saya mendaftar dua kursi bersama istri.
Meskipun sudah mepet, tidak ingin gagal naik sampai kawah, kami melakukan persiapan ringan. Saya dan istri berjalan kaki menelusuri jalan kecamatan, kebetulan kontur di Karanggede ada tanjakan-tanjakan ringan jadi lumayan buat pemanasan. Selain jalan kaki saya juga sempat MTB an untuk melemaskan kaki dan biar tidak kaget saat jalan menanjak.
Akhirnya hari yang dinanti-nanti tiba. Ternyata meskipun dengan persiapan mepet saya dan istri bisa sampai kawah Ijen. Perjalanan naik sebenarnya relative mulus selain ada insiden kecil kaki istri sempat kram ringan. Justru yang bagi saya agak sulit ketika turun dengan kondisi jalanan berdebu tebal dan cukup miring sangat rawan tergelincir. Beberapa kali saya sempat tergelincir dan dua kali sampai jatuh. Untung saja kedua tangan masih bisa menopang dan kembali berdiri.
Kamipun bisa menyelesaikan perjalanan naik turun kawah Ijen meskipun dapat bonus kaki dan pundak sakit dan nyeri akibat jatuh ketika turun. Pertanyaannya apakah saya kapok? Kok belum ya 😁.

Tegalsari 10 10 2023

Ekologi Budaya Sapa Kawah Ijenperjalanan ke kawah ijen

Navigasi pos

Previous post
Next post

Related Posts

Sapa suasana jembatan penyeberangan

Kembali ke Titik Awal: Mengapa Saya Menulis Lagi?

Juni 27, 2019Juni 12, 2025

Ketika sebuah tulisan diterima oleh pembaca itulah yang membuat saya bahagia. Perasaan yang rasanya sudah lama tidak saya rasakan

Read More
Ekologi Budaya

Tentang Kabel Ruwet Di Langit Kita

Mei 20, 2024Agustus 7, 2024

“Maaf ini yang pasang kabel siapa ya? Kabelnya melewati teras lantai 2 rumah saya,” salah seorang warga perumahan tempat saya tinggal menulis pesan di grup Perumahan. “Saya takutnya kalau ada aliran listrik. Bagi yang merasa harap dipindahkan,” lanjutnya. Beberapa saat, tak ada satupun anggota grup yang membalas pesan tersebut. Salah…

Read More
Arsitektur Vernakular

Arsitektur Vernakular Rumah Tobong di Desa Demakan Sukoharjo

November 22, 2022November 22, 2022

Bangunan, seperti halnya puisi dan adat istiadat, adalah bentuk dari kebudayaan (Glassie, 1990). Jadi bisa dibilang semua artefak arsitektur merupakan perwujudan dari norma-norma budaya yang sudah ada sebelumnya. Salah satu ciri tradisi vernakular adalah adanya korelasi yang erat antara pemahaman norma yang sudah ada oleh perancang, pembangun, serta pengguna. Namun,…

Read More

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

  • Lagu Sendu Sang Daradasih
  • Bunga Terakhir dari Balik Jeruji: Tragedi, Penantian, dan Penebusan
  • Mengenang Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso
  • Catatan Akhir Pekan: Tentang Menulis dengan Hati
  • Mengenang Ayrton Senna, Sang Legenda yang Menginspirasi

Galeri

Rubrik

  • Esai & Gagasan
    • Aneka
    • Arsitektur Vernakular
    • Cagar Budaya
    • Ekologi Budaya
    • Kampung Kota
    • lansekap
    • Sapa
    • Transportasi
  • Karir & Produktivitas
    • Tips Menulis
  • Kehidupan & Refleksi
    • Kisah
  • Perjalanan
    • Cerita Dari Kota Tua
  • Sastra & Cerita Pendek
    • Cerpen
    • Film

Kata Kunci

Arsitektur Arsitektur Vernakular bantuan Naskah Belajar Menulis Brand Story Telling Cagar Budaya cerita dari bayah cerita pendek Cerpen Cerpen bintang Cerpen Fathoni Arief Cerpen Tentang Ayah dunia kepenulisan gerbong senja Guru Daerah Terpencil Guru Papua Inspirasi Jakarta jasa penulis Jasa Penulisan Kawah Ijen Kisah Kisah Ayrton Senna kisah dari bayah kisah ibu kota Kisah Perjalanan Kopi menulis menulis produktif merjan merjan air mata mudik Naftali naik pesawat pertama kali pengalaman naik pesawat penulis penulis profesional perjalanan perjalanan ke kawah ijen Prof Hardjoso Rawa Jati sayap yang hilang sejarah kopi sisi lain tentang ibu kota sosok sugeng

Pos-pos Terbaru

  • Lagu Sendu Sang Daradasih
  • Bunga Terakhir dari Balik Jeruji: Tragedi, Penantian, dan Penebusan
  • Mengenang Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso
  • Catatan Akhir Pekan: Tentang Menulis dengan Hati
  • Mengenang Ayrton Senna, Sang Legenda yang Menginspirasi

Arsip

  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025
  • Desember 2024
  • Oktober 2024
  • September 2024
  • Agustus 2024
  • Juli 2024
  • Mei 2024
  • Juni 2023
  • Mei 2023
  • Desember 2022
  • November 2022
  • November 2021
  • Januari 2021
  • Januari 2020
  • September 2019
  • Juni 2019

Home | Perjalanan | Refleksi | Cerita | Esai | Jasa | Tentang

©2026 Blog Fathoniarief | WordPress Theme by SuperbThemes