Meskipun saya hobi jalan kaki, namun jika harus melewati rute menanjak seringkali saya berfikir dua kali. Saya punya banyak pengalaman bagaimana rasanya “ngos-ngosan” jangankan naik gunung bahkan hanya untuk naik sekelas bukit saja saya sudah menyerah duluan.
Pernah satu waktu saya naik sebuah bukit tak jauh dari Pantai Pelabuhan Ratu. Naik bukit yang tak begitu tinggi kaki saya rasanya sudah pegal-pegal dan penuh dengan olesan “balpirik” malam harinya. Tapi entah kenapa walaupun benci selalu ada rasa penasaran untuk mencoba lagi.
Naik ke Kawah Ijen juga salah satu penasaran saya. Bukan karena penasaran seperti apa kawah Ijen tapi lebih ke kira-kira dengan kondisi jarang olahraga saya masih mapu naik atau tidak. Oiya, sebelum ke kawah Ijen beberapa bulan lalu saya sempat ikut tour ke Dieng naik ke bukit Sikunir. Menapaki anak tangga Sikunir yang hanya butuh waktu singkat rasanya juga sama nafas seperti mau copot dan kaki lemas.
Perjalanan ke kawah Ijen kali ini saya juga ikut tour. H-5 jelang berangkat saya melihat story di Instagram dan iseng-iseng bertanya apakah masih ada kursi yang kosong. Ternyata masih ada dan hari itu juga saya mendaftar dua kursi bersama istri.
Meskipun sudah mepet, tidak ingin gagal naik sampai kawah, kami melakukan persiapan ringan. Saya dan istri berjalan kaki menelusuri jalan kecamatan, kebetulan kontur di Karanggede ada tanjakan-tanjakan ringan jadi lumayan buat pemanasan. Selain jalan kaki saya juga sempat MTB an untuk melemaskan kaki dan biar tidak kaget saat jalan menanjak.
Akhirnya hari yang dinanti-nanti tiba. Ternyata meskipun dengan persiapan mepet saya dan istri bisa sampai kawah Ijen. Perjalanan naik sebenarnya relative mulus selain ada insiden kecil kaki istri sempat kram ringan. Justru yang bagi saya agak sulit ketika turun dengan kondisi jalanan berdebu tebal dan cukup miring sangat rawan tergelincir. Beberapa kali saya sempat tergelincir dan dua kali sampai jatuh. Untung saja kedua tangan masih bisa menopang dan kembali berdiri.
Kamipun bisa menyelesaikan perjalanan naik turun kawah Ijen meskipun dapat bonus kaki dan pundak sakit dan nyeri akibat jatuh ketika turun. Pertanyaannya apakah saya kapok? Kok belum ya

.