Skip to content
Blog Fathoniarief
Blog Fathoniarief
  • Home
  • Salam Pembuka
  • Tentang Fathoni Arief
  • Indeks Daftar Artikel
Blog Fathoniarief

Rumus Kebahagiaan Ternyata Sesederhana Itu

admin, Juli 18, 2024Agustus 7, 2024

 

Langit Salatiga makin menghitam. Rintik-rintik hujan mulai membasahi Kota di lereng Merbabu ini. Tak mau terguyur air hujan saya dan istri mencari tempat berteduh. Karena kebetulan pas jam makan siang, kami singgah di tempat makan dekat Pusat Perbelanjaan Ramayana.

Sambil menanti menu tersaji pandangan saya tertuju keluar, hujan makin deras saja. Saya kembali teringat materi Khutbah Jum’at hari ini, tentang hikmah. Isi ceramah ini saya akui mengena dengan diri saya khususnya. Ada begitu banyak peristiwa, kejadian yang seharusnya menjadi pelajaran khususnya bagi diri sendiri dan keluarga saya.

Ada satu peristiwa menarik yang bisa jadi alasan bagi saya untuk selalu bersyukur. Beberapa waktu lalu sekira selepas Isya, rintik-rintik hujan masih jatuh di sekitaran Karanggede, tempat kami tinggal, namun karena di rumah tak ada sesuatu yang bisa disantap kami memutuskan keluar ke kaki lima tak jauh dari tempat kami. Ketika saya baru saja menyalakan motor di seberang jalan lewat seorang lelaki usianya saya perkirakan 30an. Lelaki itu membawa pikulan berisi krupuk. Sekilas saya amati barang dagangan lelaki tersebut masih utuh. Lelaki itu terus berjalan menyusuri jalanan Kecamatan di Boyolali bagian Utara tersebut lalu menghilang.

Melihat lelaki tersebut saya sempat ngobrol dengan istri saya. “Lihat lelaki itu. Kita hujan-hujan begini masih memiliki rejeki yang cukup, bisa membeli sebungkus makanan hangat lalu bisa tidur dengan nyenyak. Coba bandingkan dengan lelaki itu, masih harus membanting tulang mencari receh demi receh,”

Istri saya mengiyakan, kami bernostalgia kembali ke masa lalu, mengingat masa-masa awal pernikahan saat masih berjuang.

“Maaf pak pesanannya sudah lengkap!” rupanya makanan pesanan kami sudah siap, steak yang tersaji di atas hot plate sudah tersaji. Sambil menikmati sajian yang masih panas ini kembali fikiran saya masih tertuju pada satu kata “syukur”. Benar, tak ada alasan untuk tidak bersyukur. Kami hujan-hujan begini masih bisa berteduh, bersantai sambil menikmati sajian nikmat sementara di luar sana masih banyak pedagang, tukang becak, pengamen, sales, tukang dan masih banyak lagi yang jangankan menikmati steak berteduh saja mereka tak sempat demi memburu receh demi receh. Rumus kebahagiaan ternyata hanya senantiasa bersyukur, bersyukur dan bersyukur.

“Fabiayyi ‘ala irobbikuma tukadziban”

      “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Karanggede, Februari 2015

Kisah Sapa kebahagiaanRumus Kebahagiaan

Navigasi pos

Previous post
Next post

Related Posts

Kisah kereta api

Mudik Itu Urusan Rindu dan Rindu Itu Seperti “Dendam Yang Harus Dibalas”

Juli 25, 2024Agustus 1, 2024

Kerinduan akan kampung halaman memang membuat orang berusaha mati matian untuk bisa mudik. Mirip judul film seperti dendam, rindu juga harus dibalas.

Read More
Kisah

Saat Ekspektasi Bertemu dengan Realita

Maret 14, 2025Mei 9, 2025

Saat Ekspektasi Bertemu RealitaTahun 2000an awal ada sebuah iklan di layar kaca yang cukup terkenal. Bagi generasi seumur saya tentu ingat ” saya pakai baju merah ya”.Iklan yang cukup menggelitik tentang ekspektasi ketika janjian ketemu cewek berbaju merah dan realitanya seperti apa.Saat Ekspektasi Bertemu Realita ada banyak kemungkinan yang bisa…

Read More
Kisah mbah lestari

Kisah Mbah Lestari

Juli 25, 2024Juni 12, 2025

Setelah peristiwa 30 September 1965 meletus, nasib Lestari sekeluarga berubah. Mereka, dimasukkan dalam kategori yang harus ditangkap. Ia melarikan diri bersama anaknya yang baru berumur dua tahun. Tahun 1967, Lestari tertangkap oleh tentara di pantai Blitar Selatan.

Read More

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

  • Lagu Sendu Sang Daradasih
  • Bunga Terakhir dari Balik Jeruji: Tragedi, Penantian, dan Penebusan
  • Mengenang Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso
  • Catatan Akhir Pekan: Tentang Menulis dengan Hati
  • Mengenang Ayrton Senna, Sang Legenda yang Menginspirasi

Galeri

Rubrik

  • Esai & Gagasan
    • Aneka
    • Arsitektur Vernakular
    • Cagar Budaya
    • Ekologi Budaya
    • Kampung Kota
    • lansekap
    • Sapa
    • Transportasi
  • Karir & Produktivitas
    • Tips Menulis
  • Kehidupan & Refleksi
    • Kisah
  • Perjalanan
    • Cerita Dari Kota Tua
  • Sastra & Cerita Pendek
    • Cerpen
    • Film

Kata Kunci

Arsitektur Arsitektur Vernakular bantuan Naskah Belajar Menulis Brand Story Telling Cagar Budaya cerita dari bayah cerita pendek Cerpen Cerpen bintang Cerpen Fathoni Arief Cerpen Tentang Ayah dunia kepenulisan gerbong senja Guru Daerah Terpencil Guru Papua Inspirasi Jakarta jasa penulis Jasa Penulisan Kawah Ijen Kisah Kisah Ayrton Senna kisah dari bayah kisah ibu kota Kisah Perjalanan Kopi menulis menulis produktif merjan merjan air mata mudik Naftali naik pesawat pertama kali pengalaman naik pesawat penulis penulis profesional perjalanan perjalanan ke kawah ijen Prof Hardjoso Rawa Jati sayap yang hilang sejarah kopi sisi lain tentang ibu kota sosok sugeng

Pos-pos Terbaru

  • Lagu Sendu Sang Daradasih
  • Bunga Terakhir dari Balik Jeruji: Tragedi, Penantian, dan Penebusan
  • Mengenang Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso
  • Catatan Akhir Pekan: Tentang Menulis dengan Hati
  • Mengenang Ayrton Senna, Sang Legenda yang Menginspirasi

Arsip

  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025
  • Desember 2024
  • Oktober 2024
  • September 2024
  • Agustus 2024
  • Juli 2024
  • Mei 2024
  • Juni 2023
  • Mei 2023
  • Desember 2022
  • November 2022
  • November 2021
  • Januari 2021
  • Januari 2020
  • September 2019
  • Juni 2019

Home | Perjalanan | Refleksi | Cerita | Esai | Jasa | Tentang

©2026 Blog Fathoniarief | WordPress Theme by SuperbThemes