Henry Glassie dalam buku “Vernacular Architecture” memberi gambaran yang menarik terkait proses terciptanya ide membuat sebuah bangunan. Ia mengibaratkan bangunan seperti puisi dan ritual tertentu sebagai cerminan dari sebuah budaya. Karena itulah jika ada pertanyaan kepada si “desainer” jawaban yang diberikan bisa berbeda. Masing-masing memiliki jawaban tersendiri tentang bagaimana cara mereka membuat sebuah bangunan. Diantara mereka ada yang mengatakan, semuanya seperti yang mereka ketahui dari nenek moyangnya dan ada juga yang bilang, tentu saja ini dibangun berdasarkan ilmu pengetahuan sudah dipelajari. Henry menjelaskan sejak lahir masing-masing dari kita sudah mulai belajar memahami pengetahuan tentang bangunan.
Tentu saja semua dari lingkungan masing-masing. Di sanalah sejak kecil indera kita mulai belajar, mata mengamati estetika, rasa menerima rangsang terkait dengan kenyamanan dan seterusnya. Hal inilah yang masa demi masa terekam dalam memori sehingga ada sebuah kesan bangunan yang indah, nyaman itu seperti apa. Hingga di titik akhirnya manusia menerima kumpulan informasi lain dari dunia luar, bangku sekolah, televise. Di sinilah cara pandang tentang bangunan sudah mulai berbeda. Penjelasan Henry Glassie tadi menggambar perbedaan mendasar cara memahami bangunan antara orang biasa dan seseorang yang sudah mendapat asupan pengetahuan dan nantinya kita sebut sebagai arsitek.
Hasil dari karya “orang biasa” inilah yang akan kita bahas. Karya yang oleh Octavianus Hendrik (2011) disebut sebagai produk yang steril dari pemahaman dasar teoritis serta cenderung memanfaatkan solusi-solusi tradisional yang diturunkan secara turun temurun. Tema Arsitektur Vernakular memang relatif baru, belum genap setangah abad kemunculannya. Istilah ini diperkenalkan oleh Bernard Rudosky di dalam bukunya, Architecture without Architects. Buku ini menyertai pameran di Museum of Modern Art, New York tahun 1964 yang mengambil judul seperti bukunya. Dalam buku ini Rudofsky mengatakan “arsitektur tanpa arsitek mencoba untuk mendobrak konsep seni bangunan dengan memperkenalkan kata asing dari “arsitektur non pedigreed”. Ia menyebut nya sebagai arsitektur vernacular.
Sejak saat itu konsep Arsitektur Vernakular pun terus berkembang disertai dengan munculnya berbagai pendapat tentang definisi sebuah obyek bisa disebut vernacular, diantaranya Victor Papanek (1995) yang menjelaskan vernakular sebagai karya anonim, pribumi, asli, naif, primitif, kasar, spontan populer, berbasis lokal atau rakyat. Lalu ada Oliver (1997) mengaitkan arsitektur vernakular dengan konteks lingkungan dan sumber daya alam setempat yang diolah dan dibangun dengan teknologi tradisional.
Pendapat lain adalah dari Turan yang menyebut Arsitektur Vernakular tumbuh dan berkembang dari arsitektur rakyat yang lahir dari masyarakat etnik dan berjangkar pada etnik, serta dibangun oleh tukang berdasarkan pengalaman (trial and eror), menggunakan teknik dan material local, serta merupakan jawaban atas setting lingkungan tempat bangunan tersebut berada dan selalu membuka untuk terjadinya transformasi. Karena itulah bentuk dari Arsitektural ini seringkali berbeda dari satu daerah ke daerah lain. Konsep Turan ini hamper serupa dengan pendapat Maha Salman (2018) yang menyatakan Arsitektur vernakular sebagai demonstrasi identitas dan keberlanjutan. Konsep ini telah berkembang secara berkelanjutan dari waktu ke waktu dan dimodifikasi dengan sendirinya melalui trial and error untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selaras dengan lingkungan tempat mereka tinggal.
Dari rangkaian teori diatas bisa disimpulkan Arsitektur Vernakular adalah sebagai berikut :
1. Berbasis Lokal baik sumber daya atau material
2. Tumbuh dan berkembang dari masyarakat etnik tertentu
3. Sebagai respon atas lingkungan tempat mereka tinggal
4. Berdasarkan pengalaman
5. Memiliki prinsip keberlanjutan
Penulis : M. Fathoni Arief
Mahasiswa Program Pasca Sarjana Arsitektur UNS
Referensi :
DAFTAR PUSTAKA
A.Abdurrahman, Analisis Pengaruh Kata Kunci Kompetitif Pada Search Engine Optimization (SEO) Terhadap Pemasaran Online Untuk Produk Notebook, 2014
Bernard Rudofsky, Architecture Without Architect
Henry Glassie, Vernacular Architecture, Indiana University Press, 2000
I Mentayani, A Ikaputra, Menggali Makna Arsitektur Vernakular: Ranah, Unsur, dan Aspek-Aspek Vernakularitas, LANTING Journal of Architecture
Iwan Sudrajat, Sugeng Triyadi, Andi Harapan, Perkembangan Tipologi Rumah Vernakular
dan Responnya Terhadap Bahaya Gempa Studi Kasus: Desa Duku Ulu, Bengkulu, 2018
Lesson From Vernacular Architecture
Maha Salman, Sustainability and Vernacular Architecture: Rethinking What Identity Is, Yorkville University, Toronto, Canada, 2018