Sutarji duduk termenung di kursi tuanya yang usang. Matanya yang sayu terus tertuju pada deretan foto di dinding, seakan berharap dari sana, wajah Budi akan kembali tersenyum padanya. “Bud, makan sayur yang banyak. Biar kamu lekas besar, bisa sekolah, dan jadi pilot. Nanti bisa keliling Indonesia, bahkan dunia, tanpa bayar apa-apa,” kata-kata itu masih berputar di kepala Sutarji, meskipun tiga puluh lima tahun telah berlalu. Saat itu, Budi belum genap berumur empat tahun, namun semangatnya sudah seperti seorang pemuda yang tahu persis ke mana arah hidupnya.
Budi memang putra kebanggaan Sutarji. Dia orang pertama di kampung yang berhasil menjadi pilot. Sebuah profesi yang langka dan luar biasa, terutama jika mengingat masa kecilnya yang penuh kenakalan. Dalam ingatan Sutarji, Budi adalah bocah yang terkenal di kampung, bukan karena prestasinya, melainkan ulahnya. Mencuri mangga tetangga, memecahkan kaca rumah karena bola yang dilempar terlalu tinggi, hingga berkelahi dengan teman-temannya—semua itu bagian dari keseharian Budi.
Namun, di balik kenakalannya, Budi memiliki kecerdasan yang luar biasa. Otaknya encer, dan ia selalu mudah menguasai hal-hal baru, bahkan yang mungkin berbahaya bagi anak kecil. Sejak usia dini, Budi sudah sering meniru aksi-aksi bintang film laga, melompat dan berguling di atas kasur. Yayuk, istri Sutarji, seringkali cemberut karena tanah yang menempel di sprei akibat ulah putra mereka.
Cita-cita Budi menjadi seorang pilot sudah tertanam sejak kecil. Suatu kali, usai menonton film Hollywood tentang penerbangan, dia berkata dengan penuh semangat, “Aku ingin jadi pilot!” Sutarji awalnya menganggap itu hanya omongan anak kecil, namun seiring waktu, keinginan Budi tak pernah luntur. Selepas lulus SMA, dia mengutarakan keinginannya untuk melanjutkan sekolah di akademi pilot.
Sutarji sempat menentang. Ia ingin Budi masuk Fakultas Kedokteran yang lebih dekat dari rumah. Lagipula, biaya sekolah pilot sangat mahal untuk ukuran seorang pegawai rendahan seperti Sutarji. Namun, tekad Budi yang kuat akhirnya meluluhkan hati Sutarji. Dia rela berhutang sana-sini demi mewujudkan impian anaknya.
Budi lulus seleksi akademi pilot, sebuah pencapaian besar bagi keluarganya. Hampir empat tahun lamanya, Budi menjalani pendidikan di asrama, jauh dari rumah. Hanya saat libur panjang ia bisa pulang, dan setiap kepulangannya selalu menjadi momen yang dinantikan. Sutarji dan Yayuk akan duduk di teras, menanti kedatangan Budi. Jarak seratus meter dari pintu gerbang sudah cukup bagi mereka untuk mengenali langkah kaki putra kesayangan mereka. “Ini loh, Bu, Budi, calon pilot anakmu,” Sutarji sering berseloroh kepada istrinya, penuh kebanggaan.
Ketika Budi akhirnya lulus dan resmi menjadi pilot, kebahagiaan Sutarji dan Yayuk seakan mencapai puncaknya. Kebahagiaan itu semakin lengkap ketika Budi menikahi Santi, seorang dokter. Bagi Sutarji, impiannya memiliki seorang dokter dalam keluarga terwujud, meskipun itu melalui menantu perempuannya. Budi dan Santi dikaruniai dua anak: Andi dan Sita. Andi, anak pertama mereka, benar-benar seperti duplikat Budi—nakal, suka bermain layang-layang, namun pintar. Sementara Sita baru saja lahir seminggu yang lalu, membawa kebahagiaan baru bagi keluarga.
Namun, di balik senyum dan prestasi itu, Sutarji dan Yayuk tak bisa menampik kekhawatiran yang perlahan merambat ke hati mereka. Budi sering terlihat lebih lelah dari biasanya. Tubuhnya yang dulu tegap kini tampak sedikit lebih kurus. “Pak, kenapa Budi terlihat semakin lelah?” tanya Yayuk suatu malam, nada suaranya penuh kecemasan yang tersembunyi. Sutarji menggeleng, meski hatinya juga dipenuhi keraguan. “Mungkin dia hanya kelelahan karena pekerjaannya,” jawabnya, mencoba meredakan kekhawatiran. Namun jauh di dalam hatinya, Sutarji tahu, ada sesuatu yang lebih dari sekadar kelelahan biasa.
Beberapa minggu berlalu, dan keadaan Budi semakin memburuk. Sutarji sering mendengar batuk Budi saat mereka berbincang lewat telepon. “Bud, kamu tampak lebih lelah dari biasanya. Ada yang salah, Nak?” tanya Sutarji, suatu malam. Budi hanya tersenyum lemah di seberang telepon. “Nggak apa-apa, Pak. Cuma kecapekan biasa. Tugas terbangnya lagi padat,” jawabnya. Sutarji tak bisa berbuat banyak. “Tapi, kamu jarang pulang sekarang. Kamu kelihatan makin kurus. Jangan terlalu capek, ya,” lanjutnya, dengan perasaan campur aduk. Budi hanya tertawa kecil. “Iya, Pak. Ini semua biar kita bisa naik haji bareng nanti. Saya baik-baik aja, kok.”
“Pak, Budi sebentar lagi tiba,” suara Yayuk membuyarkan lamunan Sutarji. Mereka berdua keluar rumah, duduk di kursi teras depan, seperti biasa, menanti Budi. Namun, kali ini segalanya berbeda. Tidak ada lagi langkah tegap dan senyum hangat di balik seragam pilot yang biasa mereka nanti-nantikan. Kali ini, yang mereka tunggu hanyalah tubuh kaku putra mereka, terbungkus kain kafan dalam mobil jenazah. Dingin. Sepi. Bukan pelukan yang mereka terima, tapi kepergian untuk selamanya.
“Pak…” Yayuk berkata dengan suara bergetar. “Dulu dia selalu pulang dengan senyum di wajahnya… Sekarang… aku tak sanggup, Pak.” Suaranya pecah di tengah-tengah kalimat, air mata mulai mengalir di pipinya. Sutarji hanya bisa diam, menatap jalan di depan mereka. “Dia dulu bilang akan pulang lagi dengan seragamnya… Tapi bukan seperti ini,” jawabnya pelan, mencoba menahan perasaan yang membanjiri hatinya.
Sutarji menatap jauh ke lapangan depan rumahnya, tak peduli dengan keberadaan tetangga dan kerabat yang juga menunggu. Di kejauhan, dia melihat seorang ayah dan anak kecil bermain layang-layang. Mereka berusaha keras menerbangkan layang-layang bergambar pesawat, menunggu angin yang cukup kuat. Setelah beberapa kali mencoba, layang-layang itu akhirnya melayang tinggi, bebas di angkasa. Namun, tiba-tiba angin kencang berhembus. Benangnya putus, dan layang-layang itu terombang-ambing, hilang ditelan angin.
Sutarji terdiam, hatinya hancur, seperti benang kehidupannya yang ikut terputus, hilang bersama layang-layang di langit. Ia sadar, perjalanan hidupnya, seperti layang-layang itu, penuh dengan usaha, tantangan, dan harapan. Tapi ketika angin kehidupan berhembus terlalu kencang, layang-layang itu putus, meninggalkan hanya kenangan yang terbang semakin jauh dari jangkauannya. Seminggu lalu, Sutarji dan Yayuk masih tersenyum bahagia menyambut kelahiran cucu kedua mereka. Namun, kebahagiaan itu tak bertahan lama. Kanker hati yang selama ini tersembunyi dalam tubuh Budi akhirnya merenggut nyawanya.
Kini, Budi benar-benar melayang pergi, seperti layang-layang yang ia terbangkan dalam hidup. Namun kali ini, ia terbang untuk selama-lamanya, jauh di luar jangkauan Sutarji. Kehidupan telah melepaskan benangnya, dan Budi, putra kebanggaannya, telah pergi selamanya.
“Dia sudah pergi, Pak Tarji. Semoga dia tenang di sana,” bisik salah seorang kerabat yang berdiri di sampingnya.
Sutarji mengangguk pelan. “Dia sudah terbang tinggi… dan kali ini, aku tahu dia takkan kembali.”
Sutarji merasa bangga dengan semua yang telah dicapai Budi. Anak kecil yang dulu begitu nakal kini telah tumbuh menjadi pria yang dihormati dan dicintai banyak orang. Namun, di balik rasa bangga itu, ada kesedihan yang tak terlukiskan. Dia tahu, tak peduli setinggi apa Budi terbang, anaknya tak akan pernah pulang lagi. “Sayapmu mungkin telah hilang, Nak,” bisik Sutarji, “tapi di sini, di hatiku, kau akan selalu terbang. Setinggi apa pun kau terbang, kau tak akan pernah benar-benar hilang. Kau akan terus bersamaku, Nak, selamanya.”