Bus kota melaju perlahan, membawaku menuju stasiun Lempuyangan. Salah satu stasiun tua yang selalu berhasil mengukir senyum di wajahku. Benar-benar seperti pintu waktu, tempat ini membawaku kembali pada sebuah kisah yang tersimpan rapi di sudut ingatanku. Sebuah kenangan yang sudah terjadi lebih dari enam bulan lalu. Setiap sudut stasiun itu seperti album kenangan yang terbuka perlahan. Halaman demi halaman album mengingatkanku pada setiap detik yang pernah kujalani di sana.
“Pak, kiri!” seruku pada sopir bus. Bus berwarna oranye dan putih itu berhenti mendadak di pertigaan Barat stasiun. Akupun bersigap, segera melompat dan melewati jalanan yang dipenuhi debu, trotoar retak di sana-sini. Langkahku mantap menuju tempat di mana segala kenangan bermula. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara dari sebuah rumah tua—lagu Iwan Fals Ijinkan Aku Mencintaimu mengalun, membawaku kembali tersenyum. Lagu itu menjadi pengingat peristiwa manis yang tak akan kulupakan, seperti pengait memori yang selalu menuntunku kembali ke momen itu.
Sudah lebih dari setengah jam aku menunggu di stasiun Lempuyangan. Stasiun ini selalu sibuk, tempat di mana para penumpang kelas ekonomi saling bersilangan. Kereta yang kutunggu, Pasundan jurusan Bandung-Surabaya, ternyata belum juga datang.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tiga lewat seperempat, lebih lambat dari biasanya. Aku mendesah pelan, mengingat lirik Iwan Fals, “Biasanya kereta terlambat, dua jam mungkin biasa.” Barangkali, bagi kami, penumpang kelas ekonomi, menunggu sudah menjadi bagian dari perjalanan itu sendiri.
Aku berdiri di tengah hiruk-pikuk stasiun. Dari tempatku berdiri nampak kerumunan penumpang lain yang sibuk dengan dunianya masing-masing. Di antara suara peluit, derak rel, dan teriakan penjual koran, ada yang menarik perhatianku. Sekitar lima meter dariku, seorang perempuan duduk di kursi tunggu. Perempuan itu kutaksir usianya baru duapuluh tahunan. Rambutnya dibiarkan terurai, wajahnya tampak teduh di bawah sinar redup lampu stasiun. Sosoknya memikat, seperti bunga yang mekar di tengah keramaian tanpa perlu diperhatikan. Ada sesuatu tentangnya yang membuatku tak bisa berpaling.
Dia menoleh, dan detak jantungku seakan berhenti. Tatapannya menangkap basah aku yang tengah mencuri pandang. Jantungku berdetak lebih kencang, rasanya seluruh tubuhku lemas. “Ah, sial,” gumamku dalam hati, mencoba mengalihkan pandangan. Namun, sudah terlambat. Dia tersenyum, kepadaku. Senyum itu—tipis namun penuh makna—menyapu seluruh rasa canggung yang tadi menyesakkan dadaku.
Aku memang sudah mengenalnya. Namanya Bunga. Perkenalan kami singkat, hanya terjadi di bus yang sama menuju stasiun ini. Sejak awal, dia tak banyak bicara. Kata-kata yang keluar dari bibirnya bisa dihitung dengan jari. Ia lebih banyak menjawab dengan senyum atau anggukan kecil. Meski begitu, ada sesuatu dalam diamnya yang justru membuatku ingin tahu lebih banyak. Seperti buku yang tertutup rapat, dia menyimpan misteri di baliknya.
Alih-alih dia bercerita justru aku yang ngealntur kemana-mana. Aku mulai bercerita, tentang bagaimana aku seorang penulis. “Aku suka menulis cerpen,” kataku, bangga. “Saat menulis, rasanya seperti terbang, bebas di alam imajinasi.” Kata-kata itu keluar seperti air, mengalir tanpa henti, meski sesungguhnya aku tahu, profesi penulis tak selalu membuat orang terkesan.
Dia hanya tersenyum mendengar penjelasanku, seolah-olah tahu betul bahwa di balik semua kata-kataku, terselip rasa canggung. “Jadi, namamu Aksara?” tanyanya tiba-tiba, memotong monologku.
“Ya, panggil saja aku Aksara,” jawabku, sedikit gugup.
“Aksara… Nama yang aneh. Mungkin sama anehnya dengan tingkah lakumu,” katanya, matanya menatap langsung ke arahku. Senyumnya melebar, dan untuk sesaat aku kehilangan kata-kata. Senyuman itu, entah mengapa, mengusik hatiku dengan cara yang tak bisa kujelaskan. Ada sesuatu yang berubah saat ia tersenyum. Perasaanku tiba-tiba bergejolak, tak terkendali.
Kami berbicara sepanjang waktu di bangku stasiun, tertawa di sela-sela cerita yang terlontar tanpa sengaja. Namun, di balik candanya, aku bisa merasakan ada sesuatu yang ia sembunyikan. Setiap kali aku bertanya tentang dirinya, jawabannya pendek dan penuh tanda tanya. Seperti ada dinding tak terlihat yang memisahkan kami.
“Ini pertama kali kau naik kereta?” tanyaku akhirnya, mencoba memecahkan misteri yang terus membayangi pembicaraan kami.
“Ya, ini yang pertama,” jawabnya, lalu berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Tapi… bukan pertama seumur hidup. Hanya saja, ini pertama kalinya dalam hidup baruku.” Jawaban itu menggantung di udara, dan aku tahu, ada lebih banyak hal yang tak ia katakan daripada yang ia ucapkan.
Kereta akhirnya tiba, dan kami naik bersama. Di dalam gerbong yang penuh sesak, kami duduk bersebelahan. Suasana di dalam kereta terasa seperti dunia lain—gelap, sempit, namun diisi percakapan dan suara manusia yang tiada henti. Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, ada ruang sunyi yang tercipta di antara kami. Sesekali dia berbicara, tapi lebih sering terdiam, membiarkan kepalanya tersandar di jendela yang bergetar.
Aku bisa merasakan ada luka yang dia bawa dalam diamnya. Seperti bintang yang bersinar terang tapi perlahan meredup, dia terlihat rapuh di bawah sinar lampu kereta yang redup. Tanpa ia sadari, kepalanya kemudian tersandar di pundakku, dan saat itu aku tahu—meski hanya sesaat—aku ingin menjadi orang yang bisa mengobati lukanya.
Aku terjaga sepanjang perjalanan, sementara sebagian besar penumpang telah terlelap. Dalam kegelapan malam, kereta ini seolah membawaku pergi lebih jauh, bukan hanya menuju tujuan fisik, tapi juga menuju sebuah kesadaran baru tentang apa yang sedang kualami.
******
Bintang itu akhirnya benar-benar menghilang, seperti senja yang perlahan tenggelam, meninggalkan langit yang kelam. Hari-hari berlalu, dan aku tak pernah mendengar kabar darinya lagi. Dia datang seperti angin sepoi yang menyentuh kulit hanya sebentar, lalu pergi sebelum aku benar-benar bisa merasakannya.
Aku masih mengingat detik-detik terakhir di kereta itu. Dia terdiam, pandangannya kosong menatap keluar jendela, seolah sedang mencari sesuatu yang tak pernah bisa ia temukan. Aku ingin bertanya, tapi tak satu pun kata mampu keluar dari bibirku. Saat kereta berhenti di stasiun terakhir, dia bangkit tanpa pamit, meninggalkanku dengan ribuan tanda tanya yang tak pernah terjawab.
Mungkin dia memang bukan untukku, pikirku sambil memandangi kursi kosong di sebelahku. Ada sesuatu tentang Bintang yang selalu terasa jauh, meski dia ada di dekatku. Seperti bintang di langit—indah, mempesona, tapi tak pernah bisa kugenggam.
Perjalanan hidup terus berjalan, seperti kereta yang tak henti melaju di relnya. Aku masih menunggu, meski tak lagi berharap. Karena aku tahu, tidak semua pertemuan harus berakhir dengan kebersamaan. Beberapa hanya singgah sejenak, memberi kita pelajaran tentang kehilangan yang tak terelakkan.
Di bawah langit malam yang kelam, aku tersenyum pahit, menerima bahwa Bintang hanyalah kenangan. Sebuah kisah singkat yang tak pernah kusangka akan begitu mempengaruhi hidupku.
Keretaku akhirnya berhenti, dan aku turun dengan langkah perlahan. Stasiun itu sepi, dingin. Aku menatap ke arah langit. Tak ada lagi Bintang di sana. Hanya kegelapan, dan aku tahu, perjalananku kali ini harus kutempuh sendirian.