Jika saya diminta menjawab pertanyaan: menulis itu mudah atau sulit? Jawaban saya jelas—menulis itu sulit.
Meski beberapa tahun lalu saya sempat berkecimpung dalam dunia tulis-menulis, pandangan saya tetap sama. Menulis bukan sekadar merangkai kata demi kata menjadi kalimat lalu membentuk paragraf. Lebih dari itu, menulis adalah proses menyusun informasi atau gagasan agar memiliki nilai dan manfaat. Proses ini tidak instan. Ia butuh waktu, persiapan, dan sering kali perjalanan panjang yang sifatnya relatif bagi setiap orang.
Ketika Ide Justru Menjadi Beban
Langkah pertama dalam menulis tentu saja adalah mencari ide. Namun, menemukan ide bukan perkara mudah, terutama bagi penulis pemula atau mereka yang sudah lama tidak menulis—termasuk saya. Anehnya, dalam proses mencari ide, justru sering kali muncul terlalu banyak hal yang ingin ditulis. Akibatnya? Kebuntuan.
Saya pernah mengalami ini saat mengikuti pelatihan menulis online. Hingga H-1 sebelum tenggat pengumpulan tugas, saya belum menulis satu kata pun. Ide? Ada banyak. Tapi ketika laptop dibuka, halaman kosong tetap saja kosong. Tak satu pun kata muncul. Hari-hari saya hanya diisi dengan angan-angan: ingin menulis ini, ingin menulis itu.
Solusi Klise Tapi Manjur: Membaca
Saat kebuntuan datang, salah satu solusi klasik yang sering dianjurkan adalah: membaca. Maka saya pun mulai membaca. Tapi pertanyaan baru muncul—membaca apa?
Menurut saya, tidak semua bacaan relevan untuk menunjang tulisan. Di sinilah saya teringat nasihat almarhum dosen saya, Profesor Sri Harto: garbage in, garbage out. Meskipun dulu konteksnya tentang keairan, ungkapan ini terasa relevan. Kalau bahan bacaan kita “sampah”, maka tulisan kita pun berpotensi serupa.
Akhirnya, saya mencari buku-buku yang sesuai dengan topik yang ingin saya tulis. Meskipun tertatih, proses membaca ini perlahan-lahan membuahkan hasil. Gagasan mulai muncul kembali.
Dari Gagasan ke Tulisan: Tantangan Belum Selesai
Namun, gagasan yang muncul belum tentu langsung bisa ditulis. Tantangan baru pun muncul: gaya penulisan seperti apa yang harus saya gunakan? Kalimat pembuka seperti apa yang menarik? Apa struktur yang paling tepat?
Jika sudah begini, saya biasanya kembali ke tahap awal: membaca—dalam arti luas. Tidak hanya membaca buku, tapi juga membaca kehidupan: melihat, merasakan, mendengar, mencium, merenung. Semua itu bisa menjadi bahan bakar tulisan.
Kapan Sebuah Tulisan Selesai?
Setelah gagasan cukup matang, barulah saya bisa mulai menulis: merangkai kata menjadi kalimat, lalu paragraf, hingga akhirnya menjadi sebuah naskah utuh. Tapi, proses belum selesai. Masih ada tahap revisi: membaca ulang, merasakan alurnya, memperbaiki ejaan, dan memastikan semuanya enak dibaca.
Karena bagi saya, tulisan yang baik bukan sekadar kumpulan kalimat. Ia harus punya ruh, memberi manfaat, dan menyentuh pembaca.
Jadi, Apakah Menulis Itu Mudah?
Menurut saya? Tetap saja menulis itu sulit. Tapi bisa dilakukan jika kita punya tekad kuat dan kesabaran menjalani prosesnya. Sebab menulis adalah kerja pikiran, hati, dan juga kemauan.
Bagaimana dengan Anda?