Sore itu, waktu baru menunjukkan pukul setengah tiga, saya melihat sepasang sandal sudah terlihat di pintu ruang tunggu tempat praktek dokter gigi milik istri saya. Karena waktu buka masih satu jam lagi saya menyapanya.
“ Maaf bu, praktek baru buka nanti jam setengah empat,” kata saya.
“Oh, tidak jadi soal mas. Soalnya kebetulan tadi saya tidak ada yang mengantar dan mumpung ada bis yang lewat,” katanya.
Ibu itupun bercerita, susahnya mencari bus, meskipun sudah menunggu berjam-jam bus yang lewat belum tentu ada. Mendengar cerita ibu itu saya jadi teringat pengalaman saat pertengahan pandemi covid 19. Waktu itu saya masih memiliki Asisten Rumah Tangga (ART). Waktu itu memang susah sekali mencari ART yang bisa tinggal di rumah. Apalagi ART yang khusus melayani lansia. Sebagai solusi kami mempekerjakan ART yang tinggal di kecamatan sebelah.
Sebenarnya dari kecamatan tempat ART saya tinggal menuju rumah saya dilewati jalur bus. Namun kenyataannya bus yang beroperasi sangatlah jarang. Jika ada penumpang itu hanya beberapa orang saja. Bahkan ART saya pernah cerita sepanjang perjalanan dari tempat ia tinggal sampai terminal hanya ada dua orang penumpang saja. Walhasil, jika kesulitan mencari angkutan umum saya masih harus dipusingkan dengan persoalan antar jemput. Saat ini kondisinya jauh lebih buruk, angkutan yang dulu masih bisa ditemui sekali dua kali sudah menghilang dari jalanan.
ART saya ini bukanlah satu-satunya orang yang masih bertahan menggunakan transportasi umum, di luar sana masih ada nenek nenek pedagang pasar, pelajar yang tak memiliki kendaraan pribadi hingga pegawai negeri sipil yang karena jarak tempat tugas lebih memilih menggunakan angkutan umum. Jika angkutan umum menghilang selamanya bagaimana nasib mereka?
Seberapa mengenaskan kondisi transportasi umum kita? Salah satu contoh kasus adalah kondisi angkutan antar kota Jogja Solo. Akibat makin sepinya penumpang bus-bus Jogja Solo terancam gulung tikar. Padahal, bus trayek tersebut pernah mengalami masa kejayaan selalu ramai penumpang, bahkan beberapa perusahaan otobus (PO) punya jam pemberangkatan yang rapat, dalam hitungan menit saja.
Saya pribadi pernah melihat dan mengalami naik bus Jogja Solo yang sebegitu “sesak”nya. Biasanya di saat jam masuk kerja, serta bubaran kerja bus-bus tersebut selalu penuh sesak dengan penumpang. Saking sesaknya bisa dibilang kondisinya benar-benar tidak nyaman, namun waktu itu penumpang juga tidak ada pilihan. Saya masih teringat begitu congkaknya awak bus saat itu ketika penumpang ada yang mengeluh karena dipaksa berdesakan “Kalau ga mau desakan naik taksi saja”. Meskipun pelayanannya buruk namun bus-bus tersebut masih saja diminati karena memang tak ada alternative lain. Bisa sih naik taksi seperti kata kru tadi tapi itu sangat tidak masuk akal karena mayoritas penumpang hanya buruh pabrik dan pekerja kantoran biasa.
Saat itu sebenarnya ada satu alternatif menggunakan bus Antar Kota Antar Provinsi, namun karena sempat terjadi gesekan akibat berebut penumpang akhirnya ada larangan menaikan penumpang Jogja-Solo. Meskipun demikian tetap saja ada banyak calon penumpang “nyuri-nyuri kesempatan” naik bus Surabaya-Jogja yang kondisinya jauh lebih layak.
Momen yang menjadi pemicu bus-bus tersebut terpuruk adalah datangnya pandemi covid 19. Dengan kondisi yang sebenarnya sudah mulai memburuk pandemi covid 19 membuat perusahaan-perusahaan tersebut mulai berguguran hingga berhenti operasi. Bahkan, ada perusahaan bus yang akhirnya harus menjual seluruh armada beserta garasinya sampai-sampai karena kondisi bus sudah terlalu tua dan tak layak dijual kiloan. Kondisi ini berdampak langsung pada nasib para kru yang terpaksa menjalani profesi lain mulai dari tukang hingga kuli bangunan.
Dampak lain yang menurut saya sangat miris adalah semakin banyaknya anak-anak di bawah umur mengendarai sepeda motor. Dengan alasan tak ada angkutan umum, atau orang tua yang tidak bisa mengantar pergi sekolah akhirnya mereka membawa sepeda motor ke sekolah. Para pelajar ini kebanyakan mengemudi dengan tanpa pengaman dan seringkali kebut-kebutan. Ironisnya hal ini seperti “dibiarkan” saja oleh pihak sekolah. Meskipun sekolah tidak menyediakan lahan parkir di sekitar sekolah seperti membaca peluang mendirikan tempat penitipan sepeda motor.
Sambil membayangkan nasib angkutan umum saya teringat, sebuah celetukan dari seorang kawan. Teman saya bilang “hidup itu seperti roda, yang akan terus berputar, tentunya selama roda tidak kempes di perjalanan”. Saya sependapat dengan kawan saya. Saat menggelinding adakalanya satu bagian roda berada di atas begitu pula sebaliknya.
Seperti celetukan teman saya tadi, angkutan umum tersebut saat ini memang masih terus menggelinding meski sayangnya sekarang berada pada posisi di bawah. Kondisi angkutan umum di negeri ini bisa dibilang memprihatinkan dan jika tak ada turut campur pemerintah atau wakil rakyat pihak yang bisa menyuarakan solusi perbaikan niscaya roda yang menggelinding pelan itu akan semakin terseok, kempes dan akhirnya berhenti di tempat.
Bicara soal transportasi umum sebenarnya bukan hanya membahas nasib pengusaha beserta kru bus yang nasibnya kian terancam namun juga masyarakat umum yang selama ini masih bergantung dengan angkutan umum. Saya kira kondisi seperti ini bukan hanya terjadi di Jogja, Solo atau Boyolali saja. Ada banyak daerah yang kondisinya mungkin jauh lebih buruk. Lalu apa solusinya? Dalam sebuah diskusi di forum urban akhir tahun kemarin di Solo, solusinya jelas belajar dari studi kasus di kota-kota yang memiliki sarana transportasi public yang memadai salah satunya Jakarta. Namun selama ini kita sudah terbiasa dengan kebiasaan mengobati daripada mencegah, padahal tak perlu menunggu kondisinya separah Jakarta dulu untuk mencari solusi penanganan yang tepat.