Bangunan, seperti halnya puisi dan adat istiadat, adalah bentuk dari kebudayaan (Glassie, 1990). Jadi bisa dibilang semua artefak arsitektur merupakan perwujudan dari norma-norma budaya yang sudah ada sebelumnya.
Salah satu ciri tradisi vernakular adalah adanya korelasi yang erat antara pemahaman norma yang sudah ada oleh perancang, pembangun, serta pengguna. Namun, sebagian besar hubungan tersebut telah memudar dalam masyarakat modern, dan ini telah menyebabkan pergeseran norma, dan melemahnya akar budaya (Glassie, 1990).
Berbicara soal tradisi, arsitektur vernakular disebut menjadi cerminan tradisi lokal. Tradisi ini tumbuh serta berkembang berdasarkan kebutuhan masyarakat dimana suatu sumber material berada. Selanjutnya dari material yang ada diolah menggunakan teknologi tradisional sebagai jawaban atas pengaruh lingkungan tempat tersebut berada (Rapoport, 1969; Oliver, 2003).
Indonesia termasuk negara yang kaya dengan aneka ragam bentuk arsitektur vernakular. Adanya keragaman bentuk ini disebabkan oleh perbedaan karakteristik serta keunikan bangunan yang dilihat dari aspek-aspek pembentuknya. Aspek pembentuknya meliputi proporsi material/bahan dan struktur serta konstruksinya. Tak hanya itu saja, skala dan irama juga memiliki peran dalam mempengaruhi terbentuknya karakteristik bangunan (Susilo, 2014).
Salah satu bentuk keragaman Arsitektural Vernakular di Indonesia, yang menarik untuk dikaji adalah rumah tobong di daerah Desa Demakan, Sukoharjo. Rumah tobong (lihat gambar C.1) yang akan di bahas disini adalah satu kompleks kegiatan home industri genteng. Di kompleks yang letaknya berdekatan dengan rumah tinggal ini berbagai genteng dibuat, mulai dari tahap persiapan pencampuran tanah, penggilingan. Selanjutnya proses pencetakan lalu pengeringan, pembakaran dan penampungan akhir sebelum dibawa oleh pembeli atau tengkulak.
Karakteristik Bangunan Vernakular
Ada beberapa referensi terkait dengan arsitektur vernakular. Referensi ini menjelaskan bahwa salah satu karakter arsitektur vernakular adalah bentuk. Pendapat ini diungkapkan oleh Fischer (1953), Morgan (1965), Rapoport (1969), Waterson (1991), Schefold (1997), Oliver (1997). Bentuk dapat dikatakan sebagai media komunikasi untuk menyampaikan makna dan seorang arsitek biasanya menggunakan bentuk untuk mengungkapkan maksud kepada masyarakat. Supaya komunikasi bisa diterima dengan baik maka bentuk juga harus bisa terdefinisikan dengan baik. Hal tersebut membuat bentuk mempunyai peran yang lahir dari fungsi, simbol, geografis ataupun teknologi.
Victor (1995) memaparkan aspek pembentuk vernacular dalam bukunya “The Green Imperative Ecology and Ethics in Design and Architecture”. Victor membagi Aspek-pembentuk vernakular menjadi 7 aspek diantaranya aspek iklim, aspek lingkugan aspek ilmu pengetahuan dan teknologi, aspek hukum adat, aspek religis serta aspek hubungan sosial masyrakat (Septiano dkk, 2014)).
Arsitektur vernakular bersama kearifan lokal tumbuh berdasarkan aspirasi masyarakatnya terhadap berbagai permasalahan khususnya terkait dengan lingkungan serta iklim. Lingkungan dan iklim juga memiliki peran sebagai penentu “bentukan” dari bangunan (Heryati & Abdul, 2014). Arsitektur lebih mementingkan aspek fungsi, meskipun aspek estetika juga dihadirkan (Octavia, 2013).
Berdasarkan beberapa pendapat para peneliti bisa disimpulkan berikut ini beberapa karakteristik bangunan vernakular :
- Dibangun oleh masyarakat lokal tanpa ada campuran tenaga ahli.
- Diyakini dapat berdaptasi dengan lingkungan kondisi sekitar.
- Dibangun dengan memanfaatkan sumber daya lokal setempat.
- Memiliki tipologi bangunan awal yang berkembang dalam lingkupan masyarakat tradisional.
Industri Genteng Rumahan di Desa Demakan
Menurut Bapak Setyarto, seorang perangkat desa Demakan kabupaten Sukoharjo, industri genteng di Demakan sudah ada sejak tahun 70an. Usaha produksi genteng di desa Demakan sebagian besar adalah usaha keluarga. Dalam setiap proses dikerjakan oleh tenaga yang masih memiliki hubungan kekerabatan dan usaha tersebut diwariskan secara turun temurun.
Menurut Setyarto, yang juga termasuk salah satu pengrajin genteng, tahun 1980an jumlah pengrajin di Demakan masih sekitar 40an, namun sekarang jumlahnya sudah mencapai ratusan. Keluarga Bapak Setyarto memulai produksi genteng di tahun 1978. Lalu tahun 1985, ia mulai membuka usaha gentengnya sendiri.
Proses pembuatan Genteng terdiri dari beberapa tahap. Tahap pertama pembuatan genteng dimulai dengan pengadaan tanah bahan baku. Bahan baku ini dibeli dari daerah luar Sukoharjo, diantaranya Karanganyar dan sekitarnya. Bahan baku diangkut dengan menggunakan truk engkel. Pembelian bahan baku dari luar disebabkan adanya larangan penggalian tanah persawahan dan sudah tidak tersedianya bahan baku dari daerah sekitar.
Setelah bahan baku datang tanah proses selanjutnya adalah penggilingan . Penggilingan ada dua tahap pertama penghancuran bongkahan-bongkahan tanah dan selanjutnya mencampur beberapa bahan baku menjadi satu. Setelah digiling tanah lalu dicetak menggunakan mesin press. Penggunaan mesin press ini dimulai pertengahan era 80an. Sebelumnya proses pencetakan masih dilakukan secara manual.

Tanah yang sudah dicetak berbentuk genteng ini lalu dikeringkan. Proses pengeringan tidak dilakukan sekaligus namun secara bertahap. Proses pengeringannya dilakukan secara lambat agar tidak retak atau pecah. Tahap pertama tanah yang sudah dicetak diletakan dalam rak khusus jika kadar air sudah berkurang selanjutnya genteng diturunkan di bawah lalu dijemur di bawah matahari.
Proses pengeringan genteng sangat tergantung dengan cuaca. Dalam musim kemarau pengeringan bisa lebih cepat yaitu antara 1-2 kali. Sebaliknya di saat musim penghujan proses pengeringan bisa lebih lama minimal hingga 3 kali penjemuran. Karena itulah harga jual genteng juga lebih tinggi saat musim penghujan. Setelah benar-benar kering, genteng lalu disusun didalam tobong selanjutnya dibakar supaya keras dan kedap air. Proses pembakaran dilakukan selama beberapa jam (4-6 jam).
Pak Setyarto menjelaskan, terkait dengan kualitas produk genteng sangat tergantung dengan bahan baku. Komposisi tanah yang tepat menjadi kunci utama untuk menghasilkan genteng kualitas prima. Menurut Setyarto produsen genteng di Demakan menggunakan beberapa jenis tanah :
- Tanah biasa
- Tanah padas
- Kaolin sebagai pengikat
- Pasir Ladu
Perbandingan masing-masing bahan bisa bervariasi tergantung dengan kondisi.Tanah sebagai bahan baku haruslah dicampur dan dicampur menjadi adonan yang homogen untuk kemudian dicetak atau press menjadi genteng.
Industri genteng di Sukoharjo masih menggunakan cara dan prasarana yang sederhana. Hal ini bisa dilihat dari bentuk ruang pembakaran mulai dari konstruksi hingga material penyusunya. Secara fisik, tobong memiliki bentuk sederhana. Wujud tobong adalah bangunan degan bentuk geometri segi empat. Bangunan ini seperti yang ada di Demakan mengggunakan atap pelana. Dari segi bentuk atap jenis ini sesuai dengan iklim tropis.
Memahami kerajinan buruh,pengguna tidak meminta bentuk yang fantastis atau operasi yang berisiko, meskipun dia mungkin memelihara keinginan untuk eksotis atau tinggi tempat tinggal. Memahami kebutuhan pengguna, desainer tidak memperdebatkan opsi baru, meskipun itu bisa membawanya lebih banyak keuntungan. Desain, konstruksi, dan penggunaan bergabung dalam sebuah dirancang secara efisien, dibangun dengan kokoh, sepenuhnya berguna, sebagian besar produk konvensional.
Aspek lain yang bisa terlihat adalah penggunaan material lokal, mulai dari seperti sistem struktur utamanya yang menggunakan batu bata, batang kayu lokal dan material genteng yang tidak lolos kualitas dan sebagian menggunakan genteng tanah liat yang tersedia pada daerah tersebut.
Fathoni Arief