Skip to content
Blog Fathoniarief
Blog Fathoniarief
  • Home
  • Salam Pembuka
  • Tentang Fathoni Arief
  • Indeks Daftar Artikel
Blog Fathoniarief

Arsitektur Vernakular Rumah Tobong di Desa Demakan Sukoharjo

admin, November 22, 2022November 22, 2022

Bangunan, seperti halnya puisi dan adat istiadat, adalah bentuk dari kebudayaan (Glassie, 1990). Jadi bisa dibilang semua artefak arsitektur merupakan perwujudan dari norma-norma budaya yang sudah ada sebelumnya.

Salah satu ciri tradisi vernakular adalah adanya korelasi yang erat antara pemahaman norma yang sudah ada oleh perancang, pembangun, serta pengguna. Namun, sebagian besar hubungan tersebut telah memudar dalam masyarakat modern, dan ini telah menyebabkan pergeseran norma, dan melemahnya akar budaya (Glassie, 1990).

Berbicara soal tradisi, arsitektur vernakular disebut menjadi cerminan tradisi lokal. Tradisi ini tumbuh serta berkembang berdasarkan kebutuhan masyarakat dimana suatu sumber material berada. Selanjutnya dari material yang ada diolah menggunakan teknologi tradisional sebagai jawaban atas pengaruh lingkungan tempat tersebut berada (Rapoport, 1969; Oliver, 2003).

Indonesia termasuk negara yang kaya dengan aneka ragam bentuk arsitektur vernakular. Adanya keragaman bentuk ini disebabkan oleh perbedaan karakteristik serta  keunikan bangunan yang dilihat dari aspek-aspek pembentuknya. Aspek pembentuknya meliputi proporsi material/bahan dan struktur serta konstruksinya. Tak hanya itu saja, skala dan irama juga memiliki peran dalam mempengaruhi terbentuknya karakteristik bangunan (Susilo, 2014).

Salah satu bentuk keragaman Arsitektural Vernakular di Indonesia, yang menarik untuk dikaji adalah rumah tobong di daerah Desa Demakan, Sukoharjo. Rumah tobong (lihat gambar C.1) yang akan di bahas disini adalah satu kompleks kegiatan home industri genteng. Di kompleks yang letaknya berdekatan dengan rumah tinggal ini berbagai genteng dibuat, mulai dari tahap persiapan pencampuran tanah, penggilingan. Selanjutnya proses pencetakan lalu pengeringan, pembakaran dan penampungan akhir sebelum dibawa oleh pembeli atau tengkulak.

Karakteristik Bangunan Vernakular

Ada beberapa referensi terkait dengan arsitektur vernakular. Referensi ini  menjelaskan bahwa salah satu karakter arsitektur vernakular adalah bentuk. Pendapat ini diungkapkan oleh Fischer (1953), Morgan (1965), Rapoport (1969), Waterson (1991), Schefold (1997), Oliver (1997).  Bentuk dapat dikatakan sebagai media komunikasi untuk menyampaikan makna dan seorang arsitek biasanya menggunakan bentuk untuk mengungkapkan maksud kepada masyarakat.  Supaya komunikasi bisa diterima dengan baik maka bentuk juga harus bisa terdefinisikan dengan baik. Hal tersebut membuat bentuk mempunyai peran yang lahir dari fungsi, simbol, geografis ataupun teknologi.

Victor (1995) memaparkan aspek pembentuk vernacular dalam bukunya “The Green Imperative Ecology and Ethics in Design and Architecture”. Victor membagi Aspek-pembentuk vernakular menjadi 7 aspek diantaranya aspek iklim, aspek lingkugan aspek ilmu pengetahuan dan teknologi, aspek hukum adat, aspek religis serta aspek hubungan sosial masyrakat (Septiano dkk, 2014)).

Arsitektur vernakular bersama kearifan lokal tumbuh berdasarkan aspirasi masyarakatnya terhadap berbagai permasalahan khususnya terkait dengan lingkungan serta iklim.  Lingkungan dan iklim juga memiliki peran sebagai penentu “bentukan” dari bangunan (Heryati & Abdul, 2014). Arsitektur lebih mementingkan aspek fungsi, meskipun aspek estetika juga dihadirkan (Octavia, 2013).

Berdasarkan beberapa pendapat para peneliti bisa disimpulkan berikut ini beberapa karakteristik bangunan vernakular :

  1. Dibangun oleh masyarakat lokal tanpa ada campuran tenaga ahli.
  2. Diyakini dapat berdaptasi dengan lingkungan kondisi sekitar.
  3. Dibangun dengan memanfaatkan sumber daya lokal setempat.
  4. Memiliki tipologi bangunan awal yang berkembang dalam lingkupan masyarakat tradisional.

Industri Genteng Rumahan di Desa Demakan

Menurut Bapak Setyarto, seorang perangkat desa Demakan kabupaten Sukoharjo, industri genteng di Demakan sudah ada sejak tahun 70an. Usaha produksi genteng di desa Demakan sebagian besar adalah usaha keluarga. Dalam setiap proses dikerjakan oleh tenaga yang masih memiliki hubungan kekerabatan dan usaha tersebut diwariskan secara turun temurun.

Menurut Setyarto, yang juga termasuk salah satu pengrajin genteng, tahun 1980an jumlah pengrajin di Demakan masih sekitar 40an, namun sekarang jumlahnya sudah mencapai ratusan. Keluarga Bapak Setyarto memulai produksi genteng di tahun 1978. Lalu tahun 1985, ia mulai membuka usaha gentengnya sendiri.

Proses pembuatan Genteng terdiri dari beberapa tahap. Tahap pertama pembuatan genteng dimulai dengan pengadaan tanah bahan baku. Bahan baku ini dibeli dari daerah luar Sukoharjo, diantaranya Karanganyar dan sekitarnya. Bahan baku diangkut dengan menggunakan truk engkel. Pembelian bahan baku dari luar disebabkan adanya larangan penggalian tanah persawahan dan sudah tidak tersedianya bahan baku dari daerah sekitar.

Setelah bahan baku datang tanah proses selanjutnya adalah penggilingan . Penggilingan ada dua tahap pertama penghancuran bongkahan-bongkahan tanah dan selanjutnya mencampur beberapa bahan baku menjadi satu. Setelah digiling tanah lalu dicetak menggunakan mesin press. Penggunaan mesin press ini dimulai pertengahan era 80an. Sebelumnya proses pencetakan masih dilakukan secara manual.

Tanah yang sudah dicetak berbentuk genteng ini lalu dikeringkan. Proses pengeringan tidak dilakukan sekaligus namun secara bertahap. Proses pengeringannya dilakukan secara lambat agar tidak retak atau pecah. Tahap pertama tanah yang sudah dicetak diletakan dalam rak khusus  jika kadar air sudah berkurang selanjutnya genteng diturunkan di bawah lalu dijemur di bawah matahari.

Proses pengeringan genteng sangat tergantung dengan cuaca. Dalam musim kemarau pengeringan bisa lebih cepat yaitu antara 1-2 kali. Sebaliknya di saat musim penghujan proses pengeringan bisa lebih lama minimal hingga 3 kali penjemuran. Karena itulah harga jual genteng juga lebih tinggi saat musim penghujan. Setelah benar-benar kering, genteng lalu disusun didalam tobong selanjutnya dibakar supaya keras dan kedap air. Proses pembakaran dilakukan selama beberapa jam (4-6 jam).

Pak Setyarto menjelaskan, terkait dengan kualitas produk genteng sangat tergantung dengan bahan baku. Komposisi tanah yang tepat menjadi kunci utama untuk menghasilkan genteng kualitas prima.  Menurut Setyarto produsen genteng di Demakan menggunakan beberapa jenis tanah :

  1. Tanah biasa
  2. Tanah padas
  3. Kaolin sebagai pengikat
  4. Pasir Ladu

Perbandingan masing-masing bahan bisa bervariasi tergantung dengan kondisi.Tanah sebagai bahan baku haruslah dicampur dan dicampur menjadi adonan yang homogen untuk kemudian dicetak atau press menjadi genteng.

Industri genteng di Sukoharjo masih menggunakan cara dan prasarana yang sederhana. Hal ini bisa dilihat dari bentuk ruang pembakaran mulai dari konstruksi hingga material penyusunya. Secara fisik, tobong memiliki bentuk sederhana. Wujud tobong adalah  bangunan degan bentuk geometri segi empat. Bangunan ini seperti yang ada di Demakan mengggunakan atap pelana. Dari segi bentuk atap jenis ini sesuai dengan iklim tropis.

Memahami kerajinan buruh,pengguna tidak meminta bentuk yang fantastis atau operasi yang berisiko, meskipun dia mungkin memelihara keinginan untuk eksotis atau tinggi tempat tinggal. Memahami kebutuhan pengguna, desainer tidak memperdebatkan opsi baru, meskipun itu bisa membawanya lebih banyak keuntungan. Desain, konstruksi, dan penggunaan bergabung dalam sebuah dirancang secara efisien, dibangun dengan kokoh, sepenuhnya berguna, sebagian besar produk konvensional.

Aspek lain yang bisa terlihat adalah penggunaan material lokal, mulai dari seperti sistem struktur utamanya yang menggunakan batu bata, batang kayu lokal dan material genteng yang tidak lolos kualitas dan sebagian menggunakan genteng tanah liat yang tersedia pada daerah tersebut.

Fathoni Arief

 

Arsitektur Vernakular Sapa demakanindustri gentengrumah tobong

Navigasi pos

Previous post
Next post

Related Posts

Ekologi Budaya

Sepenggal Cerita dari Kawah Ijen

Agustus 8, 2024April 21, 2025

Meskipun saya hobi jalan kaki, namun jika harus melewati rute menanjak seringkali saya berfikir dua kali. Saya punya banyak pengalaman bagaimana rasanya “ngos-ngosan” jangankan naik gunung bahkan hanya untuk naik sekelas bukit saja saya sudah menyerah duluan. Pernah satu waktu saya naik sebuah bukit tak jauh dari Pantai Pelabuhan Ratu….

Read More
Kisah

Pengalaman Naik Pesawat Pertama Kali dan Misteri Botol Berlabel “S”

Juni 2, 2023September 4, 2024

Dalam hati saya bertanya ini apa ya? Nyaris saja saya menabur botol bertulis S ke kopi, sebelum seorang pramugara datang membagikan gula dalam kemasan kantong kertas.

Read More
Sapa suasana jembatan penyeberangan

Kembali ke Titik Awal: Mengapa Saya Menulis Lagi?

Juni 27, 2019Juni 12, 2025

Ketika sebuah tulisan diterima oleh pembaca itulah yang membuat saya bahagia. Perasaan yang rasanya sudah lama tidak saya rasakan

Read More

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terbaru

  • Lagu Sendu Sang Daradasih
  • Bunga Terakhir dari Balik Jeruji: Tragedi, Penantian, dan Penebusan
  • Mengenang Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso
  • Catatan Akhir Pekan: Tentang Menulis dengan Hati
  • Mengenang Ayrton Senna, Sang Legenda yang Menginspirasi

Galeri

Rubrik

  • Esai & Gagasan
    • Aneka
    • Arsitektur Vernakular
    • Cagar Budaya
    • Ekologi Budaya
    • Kampung Kota
    • lansekap
    • Sapa
    • Transportasi
  • Karir & Produktivitas
    • Tips Menulis
  • Kehidupan & Refleksi
    • Kisah
  • Perjalanan
    • Cerita Dari Kota Tua
  • Sastra & Cerita Pendek
    • Cerpen
    • Film

Kata Kunci

Arsitektur Arsitektur Vernakular bantuan Naskah Belajar Menulis Brand Story Telling Cagar Budaya cerita dari bayah cerita pendek Cerpen Cerpen bintang Cerpen Fathoni Arief Cerpen Tentang Ayah dunia kepenulisan gerbong senja Guru Daerah Terpencil Guru Papua Inspirasi Jakarta jasa penulis Jasa Penulisan Kawah Ijen Kisah Kisah Ayrton Senna kisah dari bayah kisah ibu kota Kisah Perjalanan Kopi menulis menulis produktif merjan merjan air mata mudik Naftali naik pesawat pertama kali pengalaman naik pesawat penulis penulis profesional perjalanan perjalanan ke kawah ijen Prof Hardjoso Rawa Jati sayap yang hilang sejarah kopi sisi lain tentang ibu kota sosok sugeng

Pos-pos Terbaru

  • Lagu Sendu Sang Daradasih
  • Bunga Terakhir dari Balik Jeruji: Tragedi, Penantian, dan Penebusan
  • Mengenang Prof. Ir. Hardjoso Prodjopangarso
  • Catatan Akhir Pekan: Tentang Menulis dengan Hati
  • Mengenang Ayrton Senna, Sang Legenda yang Menginspirasi

Arsip

  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025
  • Desember 2024
  • Oktober 2024
  • September 2024
  • Agustus 2024
  • Juli 2024
  • Mei 2024
  • Juni 2023
  • Mei 2023
  • Desember 2022
  • November 2022
  • November 2021
  • Januari 2021
  • Januari 2020
  • September 2019
  • Juni 2019

Home | Perjalanan | Refleksi | Cerita | Esai | Jasa | Tentang

©2026 Blog Fathoniarief | WordPress Theme by SuperbThemes