Kenapa Saya Kembali Menulis Blog: Catatan Hati Seorang Penulis yang Lama Vakum
Di tengah hiruk-pikuk kota Boyolali, secangkir Americano dan sebuah pesan dari teman lama menyentil kesadaran saya: “Aku masih ingat tulisanmu soal kehormatan menanam dan memanen.” Kalimat sederhana itu membawa saya pada satu kesadaran, ternyata kata-kata yang ditulis dari hati bisa menyentuh hati orang lain juga.
Setelah sekian lama blog ini terbengkalai, saya merasa kerinduan menulis itu memuncak. Dulu, blog bagi saya bukan sekadar tempat curhat, tapi ruang pelarian, perenungan, dan pencatatan. Dari puisi, cerpen, sampai catatan perjalanan, semuanya saya tuangkan tanpa beban.
Tapi waktu berjalan. Gairah itu sempat pudar, tergantikan realitas hidup yang seringkali tak memberi ruang. Namun, seperti kata Pramoedya: Tulis saja. Jangan takut tak dibaca. Suatu hari pasti berguna.
Kini, saya kembali menulis. Bukan untuk kejar trending atau viral, melainkan untuk kembali menyapa diri sendiri. Melalui blog ini, saya ingin berbagi pikiran, pengalaman, dan keilmuan yang saya tekuni, terutama dari dunia teknik sipil dan kehidupan kota.
Dengan blog baru ini—yang kini punya domain dan hosting sendiri, saya ingin lebih serius. Saya ingin setiap tulisan menjadi jejak yang bermakna, bukan hanya bagi saya, tapi juga bagi siapa pun yang membacanya.
Selamat datang kembali. Mari berbagi kisah, gagasan, dan perjalanan bersama.
Ingin membaca lebih banyak? Jelajahi tulisan saya di rubrik Kisah atau Cerpen.